Selamat Datang di situs resmi Pengurus Daerah Pelajar Islam Indonesia, kabupaten kutai kartanegara selamat menikmati, bersama etam membangun pelajar dengan berbasis imtaq dan iptek di odah kita.

KONFRENSI WILAYAH KALTIM KE 15

pemilihan dan pelantikan pengurus wilayah periode 2011-2013.

Lambang PII, dan badan otonom serta Keluarga Besar

sejak 1947 berkiprah memajukan pendidikan di indonesia

Peringatan Hari jadi PII tahun 2012

Mengundang dai kondang "ustadz Azhari nasution" dai muda pilihan ANTV

Aksi Kemanusiaan

Galang Dana Untuk Korban kebakaran

Dialog pelajar

bekerjasama dengan korps brigade PII kaltim dalam rangka hari pahlawan

Agenda Selanjutnya Leadership Basic Training di Tenggarong, Kutai Kartanegara SMA Negeri 2 Tenggarong. Pada Tanggal 25 - 31 Juli 2012
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Juli 2012

Tak Seperti Sore Biasanya


Sore itu seperti sore biasa, Mia pulang terlambat dari sekolahnya. Kegiatan ekstra kulikuler SMA banyak menyita waktunya akhir-akhir ini. Dia membuka pintu dengan lemas dan segera menuju dapur. Berharap segelas air putih, bisa meyejukkan tenggorokannya yang kering. Belum dia menyentuh ketel air yang berwarna biru itu, langkahnya terhenti. Dia melihat ibunya tertidur diatas sofa, di pojok ruang makan itu.tangan ibunya masih memegang celemek yang dia pakai jika memasak.

Wajah ibunya yang dimakan usia tersirat hidupnya yang getir. Setiap hari tanpa henti mengupas bumbu dapur lalu menjualnya kerumah makan. Harga yang didapat tidak pernah sebanding dengan keringat dan luka yang membekas dijarinya. Mata mia berkaca-kaca, dia mendekati ibunya lalu mencium keningnya.

"ibu, aku pulang." sapa mia dengan lembut, lalu dia bermanja, memijat kaki ibunya perlahan.

"ibu ketiduran ya?" beliau tersipu, lalu mengelus rambut anak perempuannya itu.

"pindah kekamar bu, biar aku yang melanjutkan pekerjaan ibu" kata mia.

"jangan, kau buat saja PR-mu. ibu sudah tidak lelah lagi." ibunya lalu berdiri.

"ibu, aku saja." mia merengek.

Ibunya menggelengkan kepala. Jika dia diam artinya dia serius. Mia yang sedikit kecewa. Duduk di meja makan dan mengeluarkan bukunya. Ibunya tersenyum melihat anak perempuannya mulai belajar. Karena bagi dirinya ilmu adalah misteri. Dia tidak bisa membaca dan menulis. Karena itu dia mempunyai hasrat yang kuat, agar anaknya tidak bernasib seperti dirinya. Mia terkejut, teh hangat dan manis kini ada didepannya. Ibunya yang diam-diam membelakanginya ternyata membuatnya teh kesukaannya.

Sore itu masih seperti biasa samapai seorang lelaki mabuk datang dan berteriak-teriak.
"istriku, mana istriku yang ke tiga ini bersembunyi" lelaki itu berjalan oleng dan menjatuhkan beberapa keramik.

"itu ayahmu, mia, kau masuklah kekamarmu. sembunyi" ibunya panik. Mia pun bereaksi refleks. Karena hal ini sudah dilakukannya sejak masih kecil. Mia duduk dipojok kamarnya, memeluk bantal, memejamkan mata tapi telinganya mencuri dengar.

"mana uang itu?, ke***at" ayah mia memaki ibunya.

"ampun pak, uang itu untuk mia sekolah. jangan pak" ibu mia memelas.

"ja****m, anak itu tidak perlu sekolah. kau kawin kan saja dia." lalu terdengar suara tamparan yang keras.

"jangan pak. pukul saja aku sepuasmu, tapi jangan renggut masa depan mia." ibunya memelas lagi.

PRAAKKKKKK, suara pecahan kaca terhempas. Mia semakn mengerut. Lalu terdengar suara orang yang berlari. Tapi suara ibunya tak terdengar sama sekali.

Mia keluar kamar dengan tubuh gemetar, dia perlahan mendekati kamar ibunya. Gemetar tubuh mia terhenti. Dia terhempas kelantai melihat tubuh ibunya. Darah mengalir dikepala ibunya.  Tubuhnya mulai basah karena darah. Tangan ibunya masih menggenggam beberapa helai uang ribuan. Uang yang akan menjanjikan masa depan Mia. Dia tertegun, orang yang paling dicintai dan disayangnya kini terbaring tak bernyawa.

Seperti orang kehilangan jiwa mia berjalan pelan menuju dapur. Diambilnya pisau yang masih tergeletak dilantai. Lalu dia berjalan pelan keluar rumahnya seperti tidak ada apa-apa. Didalam kepalanya saat ini. Hanya ada satu hal.

Mengeluarkan hati ayahnya yang menurutnya tak pernah dipakai.

Jumat, 06 Juli 2012

DIBALIK KERUDUNG

Oleh Ahmad Nur Salim

Cinta itu adalah perasaan yang mesti ada pada tiap-tiap diri manusia, ia laksana setetes embun yang turun dari langit, bersih dan suci. Hanya tanahnyalah yang berlainan menerimanya. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus, maka ia akan tumbuh sebagai pendusta, penipu dan hal lain yang tercela. Tetapi jika ia jatuh ke tanah yang subur, di sana ia akan tumbuh kesucian hati, keikhlasan, setia, dan budi pekerti yang tinggi serta perangai lainnya yang terpuji.

Terkadang cinta itu membuat semua orang jadi bahagia, sengsara, atau bahkan cinta bisa membuat seorang menjadi tak berdaya, tetapi banyak sekali dari diri kita yang salah menentukan arah tujuan dari pada cinta! Setiap orang pasti punya rasa cinta, tapi tak setiap orang dapat merasakan indahnya cinta! Setiap orang pernah bercinta tapi tak setiap orang mampu mengecap bahagianya cinta...

Semua orang pasti memiliki perasaan cinta, karena hal itu merupakan tabi’at dari manusia itu sendiri. Bukankah Allah SWT pernah berfirman dalam Al-Qur’an; ’’Dijadikan indah pula ( pandangan ) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu; wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan disisi Allah-lah tempat kembali yang baik (syurga). (Qs. Ali imron: 14). Kata-kata itu muncul ketika Ustadz Afandi memberikan ceramah di masjid Baitusy syahid.
”Cinta itu memang anugerah, tetapi juga bisa menjadi musibah! (kata Ustadz).Tergantung kita di dalam mengemasnya..! Jikalau cinta itu kita kemas atas dasar ketakwaan kepada Allah, maka cinta itu akan berbuah menjadi anugerah terindah. Tetapi, jika cinta itu kita kemas atas dasar syahwat, maka cinta itu akan menjadi petaka bagi kita! Seperti yang di alami oleh Abdullah.
Ia adalah seorang anak yang rajin, sopan, dan murah senyum. Hik’s!
Selama ini ia menjalani aktivitas sehari-hari di pesantren lita’limil Qur’an. Hari demi hari, jam demi jam, menit demi menit, dan detik demi detik, ia gunakan untuk menitih ilmu. Disana, ia dididik, diasuh, dan digembleng oleh ustad-ustad yang sudah mahir di bidang agamanya. Seiring berjalannya waktu, ketika burung berkicau dengan begitu indah, ayam berkokok dengan begitu kerasnya, ketika langit sudah mulai menampakkan pesona keindahannya...( duuh..jadi terharu nih!) para santri bersiap-siap menuju ke masjid untuk memenuhi panggilan Illahi rabbi.
Allahu akbar...Allahu akbar...
Suara adzan bergemuruh, menggetarkan hati pendengarnya. Dengan suara yang merdu dan indah seorang mu’adzin melantunkan kalimat takbir.
”Took...! Took...! Kang..bangun..bangun! Sudah waktunya sholat shubuh!”, suara pengurus pesantren yang sedang membangunkan para santri yang masih tertidur lelap di tempat tidurnya, hanya untuk memenuhi panggilan Illahi. “Kang…ayo bangun.” Suara Arif mengajakku. “ada apa kang…?” sahutku yang masih memeluk bantal. ”Sudah waktunya sholat shubuh, ayo kang...bangun!” sahut Arif mendesak. ”Iya..” kataku singkat sambil menarik selimut, ”Ayo...!” sahut Arif sambil menarik bantal dan selimutku, ”iya..iya...!” sambungku masih mengantuk.

Semua santri terbangun, kemudian mengambil air wudhu untuk mensucikan diri. Ada juga dari salah satu santri yang sudah duduk didepan mimbar sedang melantunkan ayat-ayat Al-qur’an, sementara santri lain sedang muraja’ah kitab, serta ada yang melakukan sholat rawatib dua raka’at, dan ada juga santri yang masih sulit untuk dibangunkan, akhirnya pengurus memercikkan air di mukanya.
Setelah selesai melaksanakan sholat subuh, semua santri duduk berbaris ke belakang untuk muthola’ah ayat-ayat Al-qur’an yang sudah pernah dihafalnya, dengan Ustadz Rohman AL.LC. Ada yang sudah menghafal 1 jus, 5 jus, atau bahkan sampai 30 jus. Pagi yang cerah!

Di mana matahari mulai menampakkan pancaran sinarnya, terlihat awan yang cerah dan angin yang terhembus menerpa awan. Sekitar pukul 08.00 para santri mempersiapkan diri dan memulai melangkahkan kaki.
”kang...cepatlah, ayo kita berangkat!” Teriak Ardi dengan keras.
”Ustadznya udah hadir belum?” Sahut Ikhsan sambil mencari kitabnya yang telah hilang.” ”sudah kang...Ustadznya sudah menunggu di depan kelas.” balas Ardi dengan tegas. ”Ya akhi..tunggu sebentar”, sahut Ikhsan sambil membawa kitabnya.
Akhirnya merekapun berbondong-bondong (fastabikhul khoirat) menuju ke majlis ta’lim untuk tholabul ’ilmi atau mencari ilmu. Yeap’s! Ketika para santri ingin mengkaji kitab Ihya’ ulumuddin dengan pak Ustadz, sebut saja ustadz Imron! Beliau yang mengajarkan ilmu-ilmu syari’at di sana.
Tuut...! tuut...! (bunyi hujan di atas genting!) hiip’s..! bunyi bel tanda masuk kelas dibunyikan, semua santri putra maupun putri memasuki kelas. Di samping itu ada dua orang santri yang belum memasuki kelas, yaitu aku dan ukhti Ria.
Ku langkahkan kaki menuju tempat yang belum pernah aku memasukinya, ketika sampai didepan pintu, terdengar banyak orang melafadzkan Kalamullah dan kalam rosulullah, hatiku menjadi terenyuh dan tergugah untuk mempelajarinya. Disaat aku telah meresapi dan menghayati ayat-ayatullah, tiba-tiba terlihat sosok wanita bercadar yang memakai kerudung putih berjalan dengan tergesa-gesa menuju majlis ta’lim untuk mempelajari kitab yang di karang oleh imam Ghozali. Sekejap aku melihatnya, terlihat di matanya tampak ada rasa penyesalan yang tiada tara karena terlambat memasuki kelas.
Pada saat itu pula, kami sempat saling bertatap mata satu dengan yang lainya. Kulihat pancaran pesona keindahan di setiap gerak-gerik kelopak matanya..! (deuh..jatuh cinta nih kayaknya!)

Akupun memberanikan diri untuk bertanya, dengan malu-malu kuucapkan sepatah kata, ”Ukhti terlambat ya?”
diapun menjawab dengan begitu anggunnya, ”iya akhi, tadi kitab saya tidak ada di almari.
”Kamu juga kenapa terlambat?”, tanya ukhti.
Dengan santai aku menjawabnya, ”saya anak baru disini, jadi saya tidak begitu paham tentang kegiatan pondok ini”, ”Ohh...begitu ya! sahut ukhti dengan lembut.”
Kemudian, ku ketuklah pintu kelas dengan pelan-pelan.
Took...! took...!
Dag..dig...dug...jantung berdetak begitu kencangnya, ketika ingin memasuki fashlul ’ula (kelas satu), yang pada saat itu sedang belajar Ihya’ ulumuddin.
Akupun mengucapkan salam: “Assalamu’alaikum?”
semua santri menjawab: ”wa’alaikum salam.”
Semua orang menatapku keheranan, ada juga yang berteriak mengejekku.
Huu...! huu...! ada yang janjian nih ya kayaknya..! hmm..
Didalam hatiku tidak ada rasa kesal sedikitpun ketika teman-teman mengejekku, mungkin karna saya belum mengenal mereka sepenuhnya. Hanya ’Arif’lah yang aku kenal pada saat itu, karna sebelumnya dialah yang mengantarkanku untuk bertemu dengan KH. Abu ahmad ruhani AL.LC. ketika awal saya mondok di pesantren. Yah, Beliau adalah selaku Amir Ma’had lita’limil Qur’an.

Tetapi aku merasa tidak enak kepada ukhti yang sama-sama terlambat masuk kelas tadi. Tentu dia sangat malu sekali atas kejadian pada waktu itu. Raut wajahnya terlihat tampak layu, tatapan matanya terlihat membiru, Aku mencoba untuk tenangkan diri, aku merasa sangat bersalah kepada ukhti, dalam hati aku ucapkan; ”maafkan aku ukhti!” (sebelumnya aku belum mengenal siapa namanya). Setelah aku memasuki kelas, Ustadz Imron bertanya kepadaku, ”masmukal karim ya Akhi (siapa namamu)?”

Ismi Abdullah Ustadz! (nama saya Abdullah Ustadz).”
”sebelumnya aku belum pernah melihatmu, kamu santri baru ya disini?” tanya Ustadz bijaksana. ”Na’am (iya) Ustadz!” jawabku lirih. Kemudian Ustadz menyuruhku untuk berta’aruf (berkenalan) dengan teman-teman di depan kelas.
Akupun mulai memperkenalkan diri, ”Assalamu’alaikum wr.wb?” kataku memulai. ”wa’alaikum salam wr.wb” sahut teman-teman.
Pertanyaan demi pertanyan di lontarkan kepadaku. ”Masmukal karim ya akhi?” tanya Hafidz. ”wa ’aina taskunu ya akhi?” sahut Ilham.

Udara sejuk di pagi hari, angin menghembus melewati sela-sela jendela, sementara baling-baling kipas berputar dengan kencangnya, tetapi udara saat itu terasa sangat panas bagiku. Ku menarik nafas pelan-pelan, dan ku mulai menjawab pertanyaan-pertanyaan yang di lontarkan kepadaku, ”Ismi Abdullah akhi, ana min Purwodadi” jawabku dengan tenang. Ketika saya berada didepan kelas, sayapun melihat seorang wanita berkerudung putih merengguk sedih tepat di sudut tembok sebelah kiri, ternyata ia adalah ukhti.
Setelah kejadian itu, hatiku terasa gundah dan piluh, disetiap gerak-gerik langkahku, terpaku dalam kalbu, di setiap jangkauan pandanganku terlintas bayangan kelembutan senyum manis yang menghiasi wajah, terlintas bayangan wajah ukhti. Bahkan, disaat aku membaca kalamullah, disetiap lantunan ayat yang aku baca, terbayang-bayang semua tentangnya, keanggunan prilakunya, tutur katanya, bahkan kerudungnya...! hip’s!
Ya Allah..
Ampunilah hambamu ini..
hamba tidak kuat menahan rasa yang terus menghambur di dalam hati... Sejenak akupun termenung dan berkata, ”Apakah ini yang dinamakan cinta?”, selama ini saya tidak pernah merasakan getaran yang begitu dahsyatnya seperti yang aku rasakan saat ini. Pada saat itu pula, bibirku bergetar dengan sendirinya, seraya berkata:

Ooh..ukhti...
Namamu tak terukhir dalam catatan harianku
Asal-usulmu tak hadir dalam diskusi kehidupanku
Wajah wujudmu tak terlukis dalam sketsa mimpi-mimpiku
Indah suaramu tak terekam dalam pita batinku
Namun, kau hidup mengaliri pori-pori cinta dan semangatku
Sebab, kau adalah hadiah terindah..untukku..!
Langitpun sudah mulai semakin gelap, terlihat para santri sedang menghafal hadits ”Arba’in An-nawawi”, mereka sedang menghafal hadits yang ke-13 yang berbunyi: ”Laa yu’minu ahadukum hattaa yuhibbu liakhiihi maa yuhibbu linafsih” artinya, ’Tidaklah sempurna iman seseorang diantara kamu sekalian, sehingga ia mencintai saudaranya (sesama muslim) sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri’, di sisi lain aku tidak menghafalkan hadits, ku duduk di serambi masjid sedang termenung. Ternyata, aku masih memikirkan Ukhti yang memakai kerudung putih tadi. Hafidz bertanya kepadaku, ”kenapa akhi termenung gelisah seperti itu?”, ”tidak apa-apa akhi” jawabku menghindar. ”Kenapa Akhi, apa yang terjadi? Hari ini kamu terlihat sedih sekali, kenapa?” desak Hafidz sambil memegang bahu kiriku. ”aku sedang memikirkan sesuatu Akhi, hatiku sedih, dan aku merasa bersalah”, sahutku. ”Laa tahzan innallaha ma’anaa (jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita)” sahut Umar menasehati.
Allahu akbar...Allahu akbar...Suara adzan telah di kumandangkan! Semua santri bergegas menuju ke masjid untuk melaksanakan sholat magrib secara berjama’ah. Setelah selesai sholat, para santri mempersiapkan diri untuk mengaji kitab Riyadus shalihin, karangan Imam An-nawawi dengan Ustadz Abu ahmad ruhani AL.LC. Beliau membuka kajian itu dengan ucapan salam, ”Assalamu’alaikum wr.wb.” sahut para santri, ”wa’alaikum salam wr.wb.” Kemudian, beliau memberikan hikmah tentang ”Takwa”, salah satunya yaitu didalam Surat Ath-Thalaq ayat 2, ”Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberi jalan keluar baginya dan Allah akan memberi rezeki dari arah yang tiada di sangka-sangkanya.” Begitu indah beliau menguraikannya, sehingga dapat menyentuh kalbu. Setelah selesai memberikan materi, Ustadz bertanya kepada para santri, ”siapa yang tidak menghafalkan hadits Arba’in An-nawawi hari ini?” semua santri terdiam. ”Coba maju kedepan” lanjut Ustadz. Akhirnya, tiga orang santri maju kedepan, yaitu Asep, Yahya, dan Abdullah. Satu persatu mereka ditanya bagaimana bisa sampai tidak menghafalkan hadits.

Ustadz bertanya kepada Asep, ”bagaimana bisa kamu tidak menghafal Sep?”
”Saya tadi lupa Ustadz”, jawab Asep.
Kemudian, Ustadz meneruskan pertanyaan, ”kenapa bisa lupa Sep, apa yang kamu kerjakan selama hari ini?”
”saya tadi di suruh Ustadzah Nisa’ untuk membeli kitab di Zia, pusat pembelian kitab.” saya tidak sempat menghafal Ustadz! Afwan...sahut Asep sambil menundukkan kepala.

Kemudian Ustadz melontarkan pertanyaan kepada yahya, ”kalau kamu kenapa ya?”...jawab yahya dengan gemetar, ”Aaa..a...a..ku, tadi ketiduran Ustadz!”.
”Kenapa bisa?” tanya Ustadz kembali.
”tadi habis bermain kurotal kodam (sepak bola) Ustadz!”...jawab yahya.
”Sebagian dari (kualitas) yang baik dari keislaman seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya, Paham?” lanjut Ustadz menasehati. ”iya Ustadz, saya paham!” jawab yahya menyesal. Malam begitu terang saat itu, terlihat bulan yang di selimuti banyak bintang, angin menghembus kencang, udara terasa dingin. Menggambarkan suasana hatiku pada waktu itu, tubuhku menjadi dingin seperti angin yang menghembus kencang menerpa dedaunan kering, ketika ustadz memberikan pertanyaannya kepadaku. ”Kenapa kamu tidak menghafal Abdul?” tanya Ustadz lirih. ”Saya tidak tahu Ustadz kalau di suruh menghafalkan hadits!” jawabku pelan. ”ya sudah tidak apa-apa, besok dihafalkan ya?” sahut Ustadz memaklumi.
Pada saat itu pula, aku melihat wajah ukhti yang berada di sebelah kanan tiang masjid. Wajah paras, elok, anggun, nan indah terpadu menjadi satu. Hatiku berbunga-bunga dibuatnya, tubuhku terasa kaku karenanya. Ooh..! Sungguh diriku tak kuat menahan rasa yang terus menggelut di dalam hati.
Malam semakin gelap, semua santri pulang ke pondok untuk beristirahat.

Huuupps...! huuups...! Suara santri yang sedang menyedu teh hangat, terasa manis, dan enak. Sedangkan aku berada di tempat tidur, memeluk bantal sambil menghitung genting yang berada di atas tempat tidur. Kemudian Arif menghampiriku dengan membawa secangkir teh hangat.
”Kenapa Dul?” tanya Arif mengganggu.
”Gak..!” jawabku singkat.
”Ayo..ayo..kenapa? jatuh cinta ya?” sahut Arif menggoda.
”Yee..siapa coba yang jatuh cinta?” jawabku mengelak.
”Ayo..sama siapa? ngaku saja, siapa tahu saya nanti bisa bantu!” sahut Arif.

Akupun sedikit berfikir, akhirnya aku menceritakan semuanya kepada Arif. Terdengar suara keras ke arahku, Ha...ha....ha....! ”Arif tertawa terbahak-bahak, mengejekku!”... wajahku tampak pucat saat itu, ku mencoba untuk tenangkan diri, terbesit di telingaku kata-kata maaf. ”Maaf Dul...maaf...! aku tidak bermaksud untuk mengejekmu, aku hanya heran saja, masak cowok selugu kamu bisa jatuh cinta?” sahut Arif meminta maaf.
”Cinta itu khan anugerah Rif, emangnya gak boleh ya, kalau aku jatuh cinta!” sahutku singkat. ”boleh sih, tapi.....?” kata Arif penuh makna.
”Tapi kenapa?” jawabku penasaran.
”kalau boleh tahu, siapa sih yang membuat hati kamu jadi luluh seperti ini?”...”hmm...!” wajahku memerah tampak malu, hanya kata itulah yang terucap dalam bibirku. ”Ehem..kamu jatuh cinta sama Ukhti Ria ya?” sahut Arif menggoda.

Jadi, namanya Ukhti Ria ya? Sahutku dengan kilat. Upp’s..ketahuan deh!
”Ooh..gitu tho! Bener khan apa yang aku bilang!” hik’s...Arif tersenyum kepadaku.
”Iya deh iya...aku ngaku, aku memang sedang jatuh hati kepada Ukhti..!”...akhirnya kami pun tersenyum dan tertawa bersama.

Malam semakin gelap, semua kamar tertutup dan semua lampu mati, semua santri telah tertidur pulas. Hanya lampu kamarkulah yang masih hidup, karena aku masih bersendau gurau dengan Arif, yang kebetulan dia satu kamar denganku. Wuussst...! Suara angin malam yang menerjang ranting pepohonan. Kulihat suasana malam yang sunyi sepi, akhirnya akupun berbaring di tempat tidur tepat di sebelahnya Arif, dan akupun mulai membaca do’a, ”Bismika Allahumma ahyaa wa bismika amuut”....dan akhirnya akupun tertidur. Dinyalakanya saklar lampu yang lebih terang. Kulirik jam weker yang berada di atas meja belajar. Pukul 03.10. waktunya qiyamul lail. Akupun mulai beranjak dari tempat tidur, ku carilah sandal jepit jelekku yang berada di rak. Masih terbayang sehelai kain yang dililitkan di mahkota terindah. Yeah...wajah Ukhti masih saja hinggap di benak hati dan pikiranku. Segera ku ambil air wudhu, dan ku gelar sajadah kesayanganku. Yeap’s! Sajadah yang selalu menemaniku di kala aku sedang sedih. Dengan hati yang tulus ikhlas, akupun mulai melafadzkan kalimat takbir.
”Ya Rabbi ya Rahman ya Rahim...tak sedikitpun hamba berniat untuk berpaling darimu, hamba hanya tak kuat menahan gejolak yang bersemayam di dalam kalbu.” Ku ungkapkan semua keluh kesah yang ada di benak hati. Malam begitu sunyi, terlihat bulan dan bintang bersinar terang menyinari kegelapan alam.

Ku goreskan pena dengan tinta warna hitam di atas selembar kertas, yang di dalamnya tertuliskan perasaan dan isi hatiku yang paling dalam. ”Sejak pertama kali aku melihatmu, dirimu selalu hadir dalam mimpi-mimpiku, wajah wujudmu selalu ada di setiap langkah kakiku, suaramu terekam dalam pita batinku, kau hidup mengaliri pori-pori cinta dan semangatku, ternyata diriku telah jatuh hati padamu.”... ku kirimkan surat ini lewat Arif. Setelah selesai mengaji Arif memberikan surat ini kepada Ukhti Ria.
”Assalamu’alaikum Ukhti?” kata Arif memanggil.
”Wa’alaikum salam, ada apa Akhi?” Sahut Ukhti Hidayah teman Ukhti Ria.
”Tidak, aku hanya ada perlu sedikit dengan Ukhti Ria. Dia ada tidak?” sahut Arif tergesa-gesa. ”Afwan Akhi, Ukhti Ria sedang mengisi acara di majlis ta’lim KAMAL (kuliah mu’alimil Qur’an), ada perlu apa ya? Nanti akan saya sampaikan kepada Ukhti Ria!” sahut Ukhti Hidayah.
”Iya Ukhti, saya Cuma ingin menyampaikan bincisan kecil ini buat Ukhti Ria, tolong sampaikan ya! Dan jangan dibaca dulu sebelum Ukhti Ria yang membacanya.” Sahut Arif. ”Iya Akhi Insyaallah.” balas Ukhti Hidayah. ”Ya sudah, Syukron katsiron. Jazakillahu ahsanal jaza’...! Sahut Arif sambil melambaikan tangan.

Sudah hampir dua hari aku menunggu jawaban dari Ukhti...Akhirnya, pagi itu...! Pagi yang amat cerah, sementara sang surya utuh menampakkan sinarnya, hembusan kencang awan pagi membuatku belum cukup punya nyali untuk menerima jawaban yang diberikan oleh Ukhti. Ku mencoba untuk tenangkan diri, bibir bergetar melantunkan ayatullah ”Robbissrohli shodri wayassirlii amri wahlul ukdatan min lisaani yafqahuu khouli”, tubuhku tiba-tiba menggigil kedinginan, ketika Ukhti Ria memberikan sesuatu kepadaku. Yeap’s! seuntai kata yang tertuliskan di selembar kertas warna merah muda, kemudian dimasukkanya ke dalam buku kecil nadham jurumiyah. Ternyata itu adalah jawaban yang diberikan oleh Ukhti kepadaku. Malam itu adalah merupakan malam bersejarah bagi kehidupanku, yang mungkin tidak akan pernah aku lupakan di sepanjang denyut nadiku. Setelah menata hati, ku ambil surat yang diberikan oleh Ukhti yang berada diatas meja belajarku. Ku awali membuka surat itu dengan membaca Basmalah ”Bismillahirrahmaanirrahim”, tanganku gemetar ketika ingin membaca surat itu. Kemudian kulepaslah pita yang diikatkan pada amplop surat, kubaca dengan suara lirih, didalamnya berisikan kata-kata penuh makna. Astagfirullah! Tiba-tiba hatiku terkejut ketika membaca isi surat pada paragraf terakhir, pada akhiran surat tertuliskan:

Bukan maksudku menyakiti hati
Diriku hanya tidak ingin membuatmu menjadi rapuh
Ku tak ingin engkau terombang-ambing
Sebagaimana ranting pohon yang di terjang angin
Sebenarnya....diriku sudah ada yang memiliki
Satu minggu sebelum engkau mengirimkan surat kepadaku, aku sudah di khitbah oleh Ilham mishbahul munir, putra dari Ustadz Rohman! Maafkan aku Akhi, semoga engkau mendapatkan pengganti yang lebih baik dari pada aku. Sekali lagi maafkanlah aku.....!

Kurapatkan jaket. Kupeluk kedua lutut menempel di dada, bertopang dagu sambil melamun. Hatiku hancur berkeping-keping seperti ceriping yang digiling-giling setelah selesai membaca surat itu. Diriku berada didalam kesedihan yang berkepanjangan, tubuhku yang kurus tampak semakin terlihat kurus. Wajahku tampak kusut tak bercahaya, bayang-bayang wajahnya masih saja terus menghantuiku....! Uuch...! sungguh terasa perih hatiku, sungguh diriku sudah tidak ada gunanya lagi untuk hidup.
”Sedih ya sedih, tapi jangan menyiksa diri sendiri seperti itu dong!” kata Arif menasehati sambil memegang pundak kananku.
”Habis, kok bisa-bisanya cintaku yang tulus berbalik menusukku seperti ini, apa salahku Rif?” sahutku sedih.
”Kamu tidak salah Abdul, tetapi..cinta kamu yang terlalu berlebihan itu yang membuat kamu menjadi tidak siap untuk menghadapi cobaan ini. Kebahagiaan atas cinta pada manusia itu terbatas masa berlakunya. Beda banget dengan cinta sama Allah. Cinta Allah itu indah, kekal, tanpa pamrih, dan gak kenal kata putus.....! Ayo Abdul semangat...tunjukin sama Allah bahwa kamu itu Ikhwan yang tabah dan kuat dalam menghadapi cobaan. Dan yakinlah, sesungguhnya dengan mengingat Allah hati kita akan menjadi tenang.” kata Arif menghibur.
”Iya Rif, apa yang kamu katakan itu benar, cinta kepada makhluk itu sifatnya hanya sementara. Berbeda halnya cinta kepada Allah. Sesungguhnya, masih banyak lagi sesuatu yang jauh lebih bermanfaat yang harus aku kerjakan, dibandingkan saya terus menerus terpuruk dalam kesedihan.” kataku sambil berdiri.
”Nah, begitu dong...! itu baru sahabatku...!” sahut Arif sambil mengacungkan ibu jari tangannya. Akhirnya kamipun tersenyum bersama, dan ku dekap erat tubuh Arif sambil menggenggam jari tangannya.

Pesan; ” Cintailah orang yang mencintaimu sewajarnya saja, karena bisa jadi orang yang engkau cintai akan berbalik membencimu pada suatu masa, dan Bencilah orang yang membencimu sewajarnya saja, karena bisa jadi orang yang engkau benci akan berbalik mencintaimu pada suatu masa.” 
 
Sumber : http://www.lokerseni.web.id/2012/05/cerpen-cinta-dibalik-kerudung.html#ixzz1znvtFZbX

Jumat, 29 Juni 2012

SURAT (TANPA) AYAT

Cerpen Sujud Kabisat

“Sesungguhnya, orang hidup di dunia itu ibarat mampir ngombé. Hidup ini cuma sementara. Makanya orang hidup itu tidak usah néko-néko. Hidup yang kekal itu kelak hanya ada di aherat sana—di surga yang masih Wallahu ‘Alam sana?!”
“Maksud guru di atas langit sana kan?!”

Gheni memotong pembicaraan gurunya. Sesekali menyeruput secangkir kopi panas sehingga terlihat giginya berwarna kuning dan keropos menyerupai pagar besi berkarat yang terpasang semrawut di depan rumah orang tuanya di komplek Pasar Kembang, Jogja. Entah gigi-gigi itu rusak karena sudah bawaan dari kecilatau karena kuwalat melanggar perintah Tuhan ketika makan dan minum tidak mengucap Bismillahtentunya hanya Gheni yang tahu dan akan menanggung dari semua perbuatannya sendiri.
“Memang kamu tahu di atas langit sana ada apa saja?!” celetuk guru Landhung.
   
Gheni menggelengkan kepala sembari melongo menatap guru Landhung. Tatapannya kosong. Pikirannya melantur kemana-mana. Jangankan untuk menjawab pertanyaan di atas langit ada apa saja. Bahkan untuk membaca saja Gheni butuh bantuan teman-temannya untuk mengeja. Gheni tidak tahu apa itu titik (.), koma (,), tanda seru (!), dan tanda tanya (?). Gheni tida bisa membedakan antara tanda dan makna. Walau usianya sudah menginjak sebelas tahun, tapi seumur hidup dia tidak pernah mengenyam kurikulum di sekolah. Yang Gheni tahu, semua ilmu pengetahuan itu dinamakan sejarah. Sejatine winarah.
   
Tapi ada satu hal yang membuat  guru Landhung kagum dengan sosok Gheni. Bukan lantaran sifat keberaniannya ‘kalah cacak menang cacak’ yang tidak takut kepada semua orang yang dijumpainya. Kelebihan Gheni adalah bisa menguasai angka-angka dengan nyaris sempurna. Gheni bisa menghitung perkalian, penjumlahan, pembagian, dan pengurangan dengan sangat cepat. Otaknya seperti mesin kalkulator ketika melihat angka-angka.

Bahkan, ketika suatu malam sedang duduk di teras rumah bersama guru Landhung, tiba-tiba Gheni memberitahu kepada guru Landhung kalau jumlah bintang yang berada di atas halaman rumahnya sebanyak 5136.  Tapi yang 1036  bintang hanya bisa dilihat oleh Gheni sendiri. Karena 1036 bintang itu kelihatan sangat kecil sekali dan tidak bisa dilihat dengan mata orang tua seperti guru Landhung yang umurnya sudah menginjak 65 tahun.
    
Pengakuan Gheni malam itulah yang membuat guru Landhung semakin kagum dan diam-diam menyimpan keinginan untuk belajar angka-angka kepada Gheni
“Memang kamu tahu di atas langit sana ada apa saja?!” guru Landhung mengeraskan suara. Mengulangi pertanyaannya sambil memelototi wajah Gheni yang masih bengong.
***

“Ya. Aku tahu guru di atas langit sana ada apa saja?!”
   
Tujuh tahun selang, Gheni baru bisa menemukan jawaban dari pertanyaan guru Landhung ketika tanpa sengaja mencuci muka di sungai, Gheni melihat bintang-bintang yang bertebaran dari pantulan air di sungai itu. Lantas, Gheni menyimpulkan jawaban dari guru Landhung bahwa, sesungguhnya di atas langit sana ada air. Hanya ada air. Rasanya di dunia ini tidak ada benda yang lebih hebat bisa mengalahkan kedahsyatan air. Bahkan karena saking terinspirasi dengan air, malam itu juga Gheni langsung mengganti namanya menjadi Banyu. Barangkali selama ini orang tuanya salah memberi nama kepada dia. Gheni artinya api. Benda panas. Sebagai simbol dari setan. Sedangkan Banyu sendiri artinya air.  
   
Tapi yang membuat dia tidak habis pikir, kenapa guru Landhung dari dulu tidak pernah mengganti namanya? Padahal guru Landhung mengenal dia sejak kecil. Rumahnya hanya berjarak 20 meter dari rumah Banyu. Bedanya rumah guru Landhung berada di depan masjid. Sedangkan rumah Banyu berada di komplek prostitusi. Ibunya berprofesi sebagai pelacur. Sedangkan kerjaan Ayahnya tiap hari cuma berjudi. Sejak kecil sesuatu hal yang Banyu lakukan hanyalah mengambil sobekan kertas kecil berisi tulisan angka dari  bank lintah darat yang tiap malam menagih hutang kepada pelacur di komplek Pasar Kembang. Mungkin berawal dari situlah Banyu bisa leluasa menguasai angka-angka. Karena tidak pernah satu tulisanpun yang dia baca kecuali angka. Hanya angka.
“Aku tahu guru, di atas langit sana ada air?!”
   
Banyu meneteskan air mata ketika mau memberitahu jawaban itu kepada guru Landhung, tapi guru Landhung sudah keburu meninggal satu tahun yang lalu. Yang bisa Banyu lakukan hanyalah menyimpan jawaban itu di dalam hati. Banyu selalu menyimpan jawaban itu kemanapun dia pergi. Di manapun dia melangkahkan kaki.
“Di atas langit sana ada air. Di atas langit sana ada banyu. Di atas langit sana ada aku?! Ada Aku!”
****

Sejak mengganti namanya menjadi Banyu, dia tumbuh berkembang menjadi anak remaja liar dan keras yang menghabiskan waktunya hidup di jalan. Dia tidak mau tinggal di rumahnya yang tiap hari hanya digunakan orang tuanya sebagai tempat maksiat. Entah siapa sekarang yang menjadi gurunya Banyu setelah guru Landhung meninggal, Wallahu ‘Alam. Yang jelas Banyu berubah menjadi anak remaja cerdas yang haus akan ilmu. Rasanya di dunia ini tidak ada sesuatu hal lebih nikmat yang bisa Banyu lakukan kecuali hanya mencari ilmu.
   
Ketika pada suatu kesempatan Banyu membaca salah satu buku berbunyi,  Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China, maka saat itu juga Banyu mempunyai keinginan keras langsung pergi ke China untuk mencari ilmu.  Rasanya tidak susah bagi Banyu untuk merayu turis asing yang sedang berkunjung ke Jogja agar mau mengajaknya pergi ke China. Banyu menguasai Bahasa Inggris dengan fasih dan mempunyai banyak teman bulé dari berbagai negara yang tiap hari menemani kemanapun dia pergi.
   
Alhasil, Banyu bisa menginjakkan kaki ke China dengan ilmu itu. Apapun keinginannya bisa tercapai dengan ilmu. Bahkan sampai beberapa negara di belahan Benua Eropa dan Amerika sudah pernah Banyu kunjungi sekedar untuk menemani teman-temannya meneguk vodka dan marijuana. Tidak jarang juga Banyu melihat dengan mata kepala sendiri ketika teman-temannya menelusuri goa garba dari beraneka macam wanita yang pernah dijumpainya di beberapa negara.

Tidak ada yang kurang bagi Banyu untuk bersenang-senang. Cita-citanya semula mencari ilmu sudah hilang. Hingga ahirnya Banyu sadar bahwa yang dijumpainya sekarang ini tidak jauh beda dengan tempat maksiat di kota kelahirannya di Pasar kembang, Jogja. Perang dunia kedua ketika pesta pora Adam dan Hawa tak henti-hentinya merajalela bertahta. Tiba-tiba Banyu teringat kepada kedua orang tuanya.
“Ya Tuhan, apa yang harus kuperbuat?”

Tanpa sengaja Banyu menyebut nama Tuhan. Banyu tidak bisa berbuat apa-apa lagi kecuali hanya meminta tolong kepada Tuhan. Semua teman-temannya sudah pergi. Meninggalkan Banyu sendiri. Banyu terdampar di sebuah padang pasir yang sangat gersang. Di negara Pakistan. Sebuah negara islam yang hanya mengenal nama Bilal, Hasyim, Adam, Ibrahim atau Muhammad, dan tidak mengenal nama Banyu maupun Gheni. Banyu tersadar bahwa selama ini ilmu sudah menjerumuskan dirinya dengan nafsu. Seseorang akan tersesat mempelajari ilmu tanpa Guru.

Banyu terus menangis. Menyesali semua kebodohannya. Kakinya sudah terlalu lelah untuk melangkah. Batinnya terlalu sakit untuk menjerit. Nafasnya terlalu sesak untuk berteriak. Perlahan-lahan, tubuh Banyu terhempas di atas pasir. Kepalanya menengadah. Pasrah. Kedua matanya hanya bisa kedap-kedip memandang kemerlip bintang di langit. Banyu teringat pertanyaan guru Landhung yang pernah dilontarkan kepadanya ketika dia belum bisa apa-apa. Ketika Banyu tidak tahu sama sekali tanda baca dan makna kecuali hanya mengenal angka-angka.
“Memang kamu tahu di atas langit sana ada apa saja?!”
****

Banyu terkulai lemas tak sadarkan diri. Seperti mati suri. Tidak ada yang bisa dia lakukan kecuali hanya mengedipkan mata. Memahami rahasia.
“Excuse me, are you ok?” Tiba-tiba terdengar suara perempuan dengan sangat merdu mendesing di telinga Banyu.
“Excuse me, are you ok? May i help you?”

Banyu membuka mata perlahan-lahan. Dengan pandangan agak sedikit kabur, dia melihat di depannya ada perempuan cantik dengan tubuh jenjang, hidung mancung, kulit bersih, dengan wajah sangat teduh dan sejuk. Perempuan itu mengenakan jilbab dengan motif warna pelangi. Banyu pernah lihat di buku kalau jilbab seperti yang dikenakan perempuan itu berasal dari Maroko. Konon jilbab itu hanya dikenakan oleh perempuan yang sudah mengalami ruang tasawuf yang sangat dalam.
“Excuse me, where do you come from?” Perempuan itu mengulangi pertanyaannya sambil menatap wajah Banyu yang lemas dan pucat.
“Indonesia,” jawab Banyu dengan suara terbata-bata.
“Indonesia?” Perempuan itu setengah tidak percaya mendengar jawaban Banyu. “Indonesia adalah negara yang sangat indah. Aku jatuh cinta dengan Indonesia.”
“Can u speak indonesia?” sahut Banyu dengan semangat.
“Ya, aku sudah tiga tahun tinggal di Indonesia. Tepatnya di Aceh. Aku pernah main ke Jakarta, Surabaya, Malang, dan Jogja.”
“Aku dari Jogja. Rumahku tidak jauh dengan Malioboro. Tepatnya di komplek pelacuran Pasar Kembang.”
“Oh ya, Subhanallah,” jawab Yasmeen dengan bahagia. “Aku tidak menyangka kalau akan ketemu orang Jogja di Pakistan sini. Ternyata Allah mengabulkan doaku.”
“Doa?!”  
***
   
Ya, doa. Selama ini Banyu lupa kalau dirinya hampir tidak pernah berdoa. Selama ini yang dia pikirkan hanya tanda baca, ilmu, dan makna. Perkenalannya dengan perempuan itu, membuat Banyu seolah-olah melupakan semua keinginannya untuk mencari ilmu. Dalam benak Banyu hanya ingin mengetahui dan bertemu dengan Tuhan.
Dengan Tuhan….
“Nama kamu bagus. Yasmeen Ahmed.” Banyu mencoba membuka pembicaraan ketika mereka berdua berada di sebuah serambi Masjid, di rumah Yasmeen.
“Ayahku yang memberi aku nama itu. Artinya melati dari Rosulullah.”
“Kalau namaku dulu Gheni, artinya api. Sekarang aku ganti dengan Banyu, artinya air. Ketika namaku dulu masih Gheni, aku orang yang bodoh. Tidak tahu apa-apa kecuali hanya angka. Kemudian ketika aku mengganti nama dengan Banyu, tiba-tiba aku bisa belajar ilmu dengan sangat cepat. Aku punya banyak guru. Tapi ternyata ahirnya aku juga punya banyak nafsu. Aku lupa menghitung angka hingga tanpa aku sadari umurku sudah menginjak 27 tahun. Waktu melaju begitu cepat. Sangat cepat. Sampai-sampai aku tidak tahu apa yang sudah aku perbuat. Aku sekarang tidak punya apa-apa. Kecuali hanya dosa.”
“Jangan menyesali diri sendiri Banyu. Tidak baik. Umurku sekarang sudah 30 tahun, tapi aku belum menikah. Seburuk-buruknya anak muda adalah anak muda yang belum menikah.” Yasmeen tersenyum kecil. Sambil mengerlingkan lesung pipinya yang sangat sejuk.
“Kenapa belum menikah? Jika boleh jujur, sosok kamu sesuai dengan nama kamu. Yasmeen Ahmed. Melati dari Rosulullah.”
“Tidak sedikit orang yang bilang begitu kepadaku, Banyu. Tapi entahlah, kadang aku bingung dengan misteri.”

Yasmeen menghela nafas panjang. Sesekali menatap wajah Banyu yang pandangannya menerawang kosong melihat langit. Sambung Yasmeen, “Dulu aku pernah solat istiqarah dan mohon diberi petunjuk kepada Tuhan siapakah jodohku. Kemudian dalam mimpi itu aku berada di suatu tempat. Tapi dalam keyakinanku tempat itu Indonesia. Di Jogja. Aku bertemu dengan orang sufi. Mungkin orang itu adalah jodohku.”

Banyu langsung terperangah mendengar perkataan Yasmeen kalau jodohnya orang dari Jogja. Tapi sangatlah tidak mungkin kalau jodoh Yasmeen adalah dia. Banyu tidak tahu apapun soal agama. Dia tidak bisa membaca Al-Qur’an. Bahkan satu surat sekalipun dia tidak bisa. Apalagi menjadi seorang sufi.

Mata Banyu masih kosong menerawang langit. Apakah benar di atas langit sana ada air? Atau ada api? Atau jangan-jangan ada aku? Banyu terus berfikir menemukan jawaban dari pertanyaan guru Landhung di atas langit sana ada apa saja. Sesaat kemudian, Banyu menundukkan kepala sembari menatap wajah Yasmeen.
“Maukah kamu menikah denganku, Yasmeen? Jujur sekarang aku tidak punya apa-apa. Bahkan sepeser uang sekalipun. Tapi jika kamu tahu, aku lebih kaya dari Ayahmu yang mempunyai pesantren, rumah, mobil, dan setumpuk harta lainnya.”
“Oh ya,” Yasmeen menatap wajah Banyu dengan penasaran. “Alasanmu kenapa?”   
“Pernah suatu malam duduk sendiri, aku bertanya kepada Tuhan. Tuhan, berapakah harga langit-langit, bintang, dan bulan? Aku ingin membelinya.”
“Terus Tuhan bilang apa?”
“Tuhan hanya diam. Tidak menjawab apa-apa. Bahkan sampai sekarang juga tidak ada orang satupun yang memberitahuku berapa harga langit-langit, bintang, dan bulan itu. Lantas aku berfikir, mungkin sekarang ini aku adalah orang paling kaya sedunia. Ketika orang lain hanya bisa mempunyai mobil, rumah, perusahaan, dan setumpuk harta lainnya, tapi aku pernah berniat untuk membeli langit-langit, bintang, dan bulan. Seandainya saja sekarang ini Tuhan memberitahu aku berapa harga langit-langit, bintang, dan bulan itu, maka aku akan membelinya dan aku berikan kepadamu sebagai mahar pernikahanku.”
“Dengan apa kamu akan membelinya? Dengan uang?”
“Bukan. Bukan dengan uang.”
“Dengan ilmu?
“Juga bukan.”
“Terus?!”
“Jujur sekarang aku tidak punya uang dan ilmu. Aku juga tidak bisa baca Al-Qur’an sama sekali. Bahkan satu surat sekalipun. Apalagi menjadi seorang sufi. Tapi aku pernah mendengar perkataan Cak Nun. Tanpa aku sadari beliau adalah salah satu guruku. Beliau pernah bilang bahwa ilmu pengetahuan seluas samudera sekalipun, harta sebanyak apapun di muka bumi ini, sesungguhnya semua ilmu dan harta itu tidak akan ada apa-apanya kalau sudah dihadapkan pada….”
“Apa itu, Banyu?!”
“Iqra’….”
“Jadi satu ayat itu yang akan kamu pakai sebagai mahar pernikahan untuk melamarku?!”
“Ya, Iqra’ Yasmeen Ahmed.”
“Iqra’….”

 Jogja - Jakarta, 2006 - 2007
*) iqra’ = bacalah! (ayat pertama kali yang turun dalam Al-Qur’an)


Sumber : http://www.lokerseni.web.id/2012/03/surat-tanpa-ayat-cerpen-islam-terbaru.html

Siti Maysitoh


“Apa, di dalam kerajaanku sendiri ada pengikut Musa?” Teriak Fir’aun dengan amarah yang membara setelah mendengar cerita putrinya perihal keimanan Siti Masyitoh. Hal ini bermula ketika suatu hari Siti Masyitoh sedang menyisir rambut putri Fir’aun, tiba-tiba sisir itu terjatuh, seketika Siti Masyitoh mengucap Astagfirullah. Sehingga terbongkarlah keimanan Siti Masyitoh yang selama ini disembunyikannya.
“Baru saja aku menerima laporan dari Hamman, mentriku, bahwa pengikut Musa terus bertambah setiap hari. Kini pelayanku sendiri ada yang berani memeluk agama yang dibawa Musa. Kurang ajar si Masyitoh itu,” umpat Fir’aun.

“Panggil Masyitoh kemari,” perintah Fir’aun pada pengawalnya. Masyitoh datang menghadap Fir’aun dengan tenang. Tidak ada secuil pun perasaan takut di hatinya. Ia yakin Allah senantiasa menyertainya.
“Masyitoh, apakah benar kamu telah memeluk agama yang dibawa Musa?”. Tanya Fir’aun pada Masyitoh dengan amarah yang semakin meledak.
“Benar,” jawab Masyitoh mantap.
“Kamu tahu akibatnya? Kamu sekeluarga akan saya bunuh,” bentak Fir’aun, telunjuknya mengarah pada Siti Masyitoh.
“Saya memutuskan untuk memeluk agama Allah, maka saya telah siap pula menanggung segala akibatnya.”
“Masyitoh, apa kamu sudah gila! Kamu tidak sayang dengan nyawamu, suamimu, dan anak-anakmu.”
“Lebih baik mati daripada hidup dalam kemusyrikan.”
Melihat sikap Masyitoh yang tetap teguh memegang keimanannya, Fir’aun memerintahkan kepada para pengawalnya agar menghadapkan semua keluarga Masyitoh kepadanya.
“Siapkan sebuah belanga besar, isi dengan air, dan masak hingga mendidih,” perintah Fir’aun lagi.
Ketika semua keluarga Siti Masyitoh telah berkumpul, Fir’aun memulai pengadilannya.
“Masyitoh, kamu lihat belanga besar di depanmu itu. Kamu dan keluargamu akan saya rebus. Saya berikan kesempatan sekali lagi, tinggalkan agama yang dibawa Musa dan kembalilah untuk menyembahku. Kalaulah kamu tidak sayang dengan nyawamu, paling tidak fikirkanlah keselamatan bayimu itu. Apakah kamu tidak kasihan padanya.”
Mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Fir’aun, Siti Masyitoh sempat bimbang. Tidak ada yang dikhawatirkannya dengan dirinya, suami, dan anak-anaknya yang lain, selain anak bungsunya yang masih bayi. Naluri keibuannnya muncul. Ditatapnya bayi mungil dalam gendongannya. “Yakinlah Masyitoh, Allah pasti menyertaimu.” Sisi batinnya yang lain mengucap.
Ketika itu, terjadilah suatu keajaiban. Bayi yang masih menyusu itu berbicara kepada ibunya, “Ibu, janganlah engkau bimbang. Yakinlah dengan janji Allah.” Melihat bayinya dapat berkata-kata dengan fasih, menjadi teguhlah iman Siti Masyitoh. Ia yakin hal ini merupakan tanda bahwa Allah tidak meninggalkannya.
Allah pun membuktikan janji-Nya pada hamba-hamba-Nya yang memegang teguh (istiqamah) keimanannya. Ketika Siti Masyitoh dan keluarganya dilemparkan satu persatu pada belanga itu, Allah telah terlebih dahulu mencabut nyawa mereka, sehingga tidak merasakan panasnya air dalam belanga itu.
Demikianlah kisah seorang wanita shalihah bernama Siti Masyitoh, yang tetap teguh memegang keimanannya walaupun dihadapkan pada bahaya yang akan merenggut nyawanya dan keluarganya.
Ketika Nabi Muhammad Saw. isra dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsa di Palestina, beliau mencium aroma wangi yang berasal dari sebuah kuburan. “Kuburan siapa itu, Jibril?” tanya baginda Nabi.
“Itu adalah kuburan seorang wanita shalihah yang bernama Siti Masyitoh,” jawab Jibril.

sumber : http://cerpen-alhidayah.blogspot.com/

Minggu, 24 Juni 2012

Doa Seorang Penjaga Makam

DOA SEORANG PENJAGA MAKAM
Cerpen Sujud Kabisat

Barangkali, di Negeri ini tidaklah ada sebuah kota yang lebih sempurna dibanding jakarta. Kota yang menawarkan sejuta harapan dan mimpi bagi orang-orang yang datang dan pergi. Tanpa basa-basi. Tanpa permisi.
Seperti.....
Oh.....
Nani.....
Gelap.....
Gelap.....?
Gelap.....!
Gelap.....?!
Sebentar, sayang.
Sebentar-sebentar. Tolong dikasih tahu posisi saya berada di mana sekarang?! Kenapa semuanya diam?! Kenapa semuanya tidak mau menjawab?! Kenapa semuanya berubah jadi gelap?!
Tolong.....
Please.....
Apakah ada orang di sini.....?!
Apakah agama kalian.....?!
Kenapa kalian membeda-bedakan orang satu dengan orang yang lain.....?!
Kenapa kalian diam.....?!
Kenapa kalian tidak mau menjawab.....?!
Kenapa kalian berubah jadi gelap.....?!
..............
..............
..............
****

Brodin tidur tertelungkup di semak rerumputan. Di bawah iklan raksasa bergambarkan peta kota Jakarta. Tubuhnya kejang-kejang. Bibirnya gemetar. Lidahnya menjulur keluar. Dari celah giginya bagian depan, terdengar suara sangat berisik menyerupai desisan ular kobra yang siap memangsa siapa saja yang mendekatinya. Dengan ketakutan, Brodin berteriak minta tolong.
Ya, hanya minta tolong.
”Tolang-tolong.....! Tolang-tolong.....! Dasar orang gila.....! Gelandangan.....!” sergah seorang Bapak, dengan usia sekitar enam puluh tahun, mengenakan dasi, berpakaian ala parlente berjalan melewati di samping Brodin. Kemudian Bapak itu menendang botol Aqua bekas di depannya hingga melayang tepat mengenai sasaran di kepala brodin. ”Brakk.....!”
”Jancok! Siapa yang barusan memukul kepalaku?!” batin Brodin seraya memegangi kepalanya yang benjol. Brodin menengok di sekelilingnya tidak menjumpai siapa-siapa kecuali hanya sebuah iklan raksasa bergambarkan peta kota Jakarta yang sudah lapuk di makan usia dan siap menimpanya kapan saja.
Dengan tubuh sempoyongan, Brodin mencoba berdiri. Melangkahkan kaki. Brodin mulai menyusuri kota Jakarta yang super kumuh, macet, bising, dan sama sekali tidak mencerminkan kesan ramah seperti halnya kota kecil di tempat kelahirannya, Madura.

Sebenarnya, tujuan Brodin merantau ke Jakarta bukanlah tanpa sebab. Brodin memendam cita-cita mulia ingin merubah nasib keluarganya. Dan Jakarta, adalah kota pertama yang ingin ditaklukannya. Kata banyak orang, di Jakarta kita bisa ketemu artis dan pejabat. Tidak hanya itu saja. Di Jakarta, kita bisa melihat gedung-gedung menjulang tinggi mencakar langit. Mono rel. Busway. Kereta listrik. Dan di Jakarta, kita bisa mencari uang dengan mudah. Baik dengan cara halal maupun haram. Semua aktifitas bergerak dan tidak bergerak tersaji 24 jam. Non stop.
”Stop.....! Jangan bergerak.....!” Tiba-tiba datang seorang aparat mengenakan seragam menyeramkan menodongkan senapan ke arah Brodin.
”Saya bilang jangan bergerak. Jika bergerak, saya tembak.....!” Aparat itu mendekati Brodin sambil memborgol kedua tangannya.
”Waduh, bapak ini na gimana. Masak orang hidup disuruh tidak rak bergerak. Jika orang hidup tidak rak bergerak, namanya bukan orang dup hidup. Tapi orang ti mati tak iye,” bantah Brodin kepada Aparat itu dengan logat Madura yang terkesan polos.
”Sudah jangan banyak bicara. Saudara saya tangkap.....!” Aparat itu menyeret Brodin. Sesaat kemudian, sebuah sepatu PDH bersarang ke wajah Brodin, ”Brakk....!”
Brodin tersungkur ke aspal. Kepalanya benjol. Matanya lebam. Bibirnya berubah monyong mengelurkan darah. Sesaat kemudian, pandangan Brodin berkunang-kunang. Semuanya berubah jadi gelap.
Gelap.....
Gelap.....?
Gelap.....!
Gelap.....?!
..............
..............
..............
****

”Saudara tahu, apa kesalahan saudara?!”

Di kantor polisi, seorang Aparat dengan wajah sadis, berkumis tebal, dengan perut sangat gendhut menginterogasi Brodin sembari menggeledah tas, dompet, dan seluruh pakaian hingga Brodin telanjang dada hanya mengenakan celana dalam.
”Lah, bapak ini na gimana. Saya ke jakarta cari ja kerja. Saya tidak lah bersalah tak iye,” jawab Brodin, masih menggunakan logat Madura yang kental dan polos.
”Saudara tidak punya KTP.....!”
”Ooo pe ke te pe. Bapak ini na gimana. Semua orang pasti tahu kalau saya berasal dari ra Madura tak iye.” Brodin membantah pertanyaan Aparat itu dengan sangat dingin. Sedikitpun tidak memperlihatkan ekspresi rasa bersalah.
”Saudara tahu gepeng.....!” Aparat itu terlihat kesal memelototi wajah Brodin. ”Saudara tahu gepeng, nggak.....!”
”Ha.... ha.... ha.... ha....” Brodin tertawa terpingkal-pingkal di depan Aparat itu. ”Bapak ini na gimana. Saya jelas tahu sama almarhum peng gepeng. Almarhum peng gepeng itu kan pelawak fovorit ga keluarga saya tak iye.”
”Bukan gepeng itu yang saya maksud…..!” Aparat itu semakin kesal menjambak rambut Brodin. ”Gepeng itu singkatan dari gelandangan dan pengemis.”
”Waduh, bapak ini na gimana. Kan tadi saya sudah lang bilang. Kalau saya ke Jakarta ini cari ja kerja. Saya bukan dang gelandangan. Bukan juga mis pengemis tak iye.”
”Brengsek.....! Saudara itu sudah bersalah tidak punya KTP masih jawab tak iya-tak iye....! Tak iya-tak iye....! Saudara bisa berbahasa Indonesia dengan baik nggak sih....!”
”Bapak ini na gimana. Kan tadi saya sudah jawab soal pe ka te pe. Semua orang pasti tahu kalau saya berasal dari ra Madura. Semua orang pasti tahu kalau Madura itu bagian dari Negara sa Indonesia. Dan sekarang ini saya sedang pakai bahasa sa Indonesia tak iye.”
”Sudah saudara keluar sana.....! Bikin pusing.....! Dasar gelandangan bego.....! Gembhel.....!” Aparat itu sudah kehilangan kesabaran menyeret Brodin keluar kantor sambil melemparkan tas, dompet, dan pakaian ke wajah Brodin.
”Lah, bapak ini na gimana. Bapak yang go bego. Bapak yang sek brengsek. Saya ke Jakarta cari ja kerja. Saya bukan dang gelandangan. Bukan juga bel gembhel. Apalagi mis pengemis tak iye.” Brodin balik menggerutu dan marah-marah di depan Aparat itu sambil mengenakan pakaian.
“Dari tadi sedikit-sedikit bapak bilangnya ra saudara. Sedikit-sedikit bapak bilangnya ra saudara. Kalau kelakuannya sar kasar seperti ini, ras keras seperti ini, namanya bukan ra saudara. Tapi suh musuh tak iye.”
Brodin meninggalkan kantor polisi dengan tubuh sempoyongan. Entah sudah berapa hari Brodin belum makan. Tubuhnya terlihat kurus. Tak terurus. Rambutnya acak-acakan. Wajahnya terbakar panas matahari sampai hitam. Lebam. Brodin mulai berjalan kembali menyusuri kota Jakarta yang super kumuh, macet, dan bising. Kota yang menawarkan sejuta harapan dan mimpi bagi orang-orang yang datang dan pergi. Tanpa basa-basi. Tanpa permisi.
****

Permisi.....
Hallo.....
Kulo nuwun.....
Punten......
Excuse me.....
Sampurasun.....
Assalamualaikum.....
..............................
..............................
Berulang kali, Brodin mengucapkan kalimat itu di setiap waktu. Di setiap penjuru. Hampir setiap jalanan di Jakarta, sudah disisirnya. Dengan luka. Dengan mata berkaca-kaca, Brodin terus berjalan. Dengan tubuh remuk redam. Tanpa arah dan tujuan. Tanpa harapan. Tanpa jawaban.
Adakah yang mendengar jeritannya.....?!
Adakah yang menitah langkahnya.....?!
Adakah yang menyeka air matanya.....?!
Ada.....
Ada.....?
Ada.....!
Ada.....?!
Ada. Di sebuah tempat. Berkumpulnya sanak kerabat. Mencurahkan air mata. Menaburkan wangi bunga. Melantunkan ayat-ayat dan doa.
Di sini.....
Di sini.....?
Di sini.....!
Di sini.....?!
Di sini. Matahari terbagi menjadi dua sisi. Kanan dan kiri. Rembulan terbelah menjadi dua arah. Atas dan bawah. Siang dan malam sama saja. Tidak ada bedanya.
Gelap.....
Gelap.....?
Gelap.....!
Gelap.....?!
Gelap. Tidak ada bujur utara, selatan, timur, dan barat. Semuanya menghadap kiblat. Dengan khidmat.

Dengan khidmat. Brodin duduk di salah satu makam. Bersandarkan batu nisan. Beraromakan wangi kembang. Bau kemenyan. Dan sebungkus rokok sesajian.
”Almarhum Nani Binti Mani.”
”Lahir : Jumat Wage. 17 Agustus 1945.”
”Wafat : Minggu Legi. 19 Agustus 1945.”

Brodin membaca salah satu nisan di depannya. Matanya kembali berkaca-kaca. Dengan langkah goyah, Brodin coba melangkah. Duduk di depan nisan itu dengan penuh haru. Termangu. Brodin mengeja setiap kata demi kata. Dengan suara terbata-bata.
”Nani.....”
”Na.....”
”Ni.....”
”N.....”
”A.....”
”N.....”
”I.....”
”Oh….. Nani. Maafkan kesalahan Bapak jika sampai sekarang belum bisa membahagiakan anak Bapak yang tersayang. Maafkan Bapak, Nak.”

Membaca tulisan di batu nisan itu, Brodin menangis tersedu teringat Nani, anaknya. Anak semata wayang Brodin yang masih berumur 3 tahun dan terpaksa harus ditinggalkannya merantau ke Jakarta untuk sebuah cita-cita mulia. Brodin mendekap batu nisan itu seperti halnya Brodin mendekap anaknya sendiri.

Seandainya saja sekarang ini Nani berada di pangkuannya, pasti Brodin akan memeluk anak semata wayang lucu itu dengan penuh kasih sayang. Brodin akan menimang-nimang Nani dengan alunan tembang. Brodin teringat ketika pertama kali melangkahkan kaki dari rumahnya untuk pergi ke Jakarta, Nani menatap Brodin dengan sorotan mata iba seolah-olah Nani tidak rela melihat kepergian Bapaknya. Tapi Brodin terus memaksa melangkah dengan hati goyah. Dan terahir kali, Brodin masih sempat melihat dari kejauhan, bibir mungil anak kecil itu berteriak dengan suara serak, ”Baaappp..... pak.....”

Brodin kembali membaca batu nisan itu. Seolah-olah tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya. Apa yang sedang dialaminya.
”Almarhum Nani Binti Mani.”
”Lahir : Jumat Wage. 17 Agustus 1945.”
”Wafat : Minggu Legi. 19 Agustus 1945.”

Mata Brodin menerawang sambil menghitung jari-jemarinya. Brodin menghitung hari kelahiran dan kematian Nani seperti yang tertulis pada batu nisan di depannya. Walau nama anak yang tertulis di batu nisan itu namanya sama dengan Nani, anaknya. Tapi Brodin cukup bersukur karena sampai sekarang anaknya masih hidup dan sudah berumur 3 tahun lebih. Sedangkan Nani yang tertulis di batu nisan itu hanya berumur 3 hari.

Sejak bertemu dengan Nani, Brodin merasa banyak hikmah dan pengalaman yang ia petik. Hingga ahirnya, Brodin memutuskan untuk tinggal bersama Nani. Di sebuah tempat. Berkumpulnya sanak kerabat. Mencurahkan air mata. Menaburkan wangi bunga. Melantunkan ayat-ayat dan doa.
Di sini, Brodin mulai menjalani perkerjaan barunya.
Sebagai penjaga makam.
Di kuburan.....
Di kuburan.....?
Di kuburan.....!
Di kuburan.....?!
Di kuburan, yang luasnya menghampar tiga hektar, Brodin melewati hari-harinya dengan suka cita. Tanpa ada perasaan putus asa. Penduduk di kuburan sini semua sangat ramah. Seramah orang-orang yang tinggal di kota kelahirnnya, Madura. Sebuah kota kecil yang dikenal Bangsa ini dengan mayoritas penduduk hanya berprofesi sebagai penjual sate ayam dan tukang cukur rambut. Tapi Brodin percaya, suatu saat ia akan pulang ke Madura dan seluruh penduduk akan berkoar-koar dan menyambutnya bak pendekar. Bisa jadi, Brodin akan berdiri di atas mimbar bercerita tentang pengalamannya berjuang keras menaklukkan Jakarta hingga ahirnya ia bisa keluar dan menjadikannya seorang avatar.
”Hidup Brodin......”
”Hidup Brodin Sang Pendekar.....”
”Hidup Brodin Sang Avatar.....”
”Hidup Presiden baru kita..... Brodin Al Amru.....”
Brodin terbangun dari lamunan, ketika seekor lalat hinggap di mulutnya. Seekor lalat itu sepertinya juga ingin merasakan kenikmatan sebungkus nasi yang Brodin makan. Sebungkus nasi dengan lauk pauk tahu dan telor dadar itu Brodin dapatkan ketika tadi siang ia membantu menggali kuburan karena ada orang yang meninggal. Selain mendapatkan nasi, Brodin juga diberi upah uang sebesar lima puluh ribu. Lumayan, bisa ditabung untuk kebutuhan keluarga jika Brodin pulang ke Madura. Brodin menyimpan uang itu di dalam gundukan makam. Di bawah batu nisan bertuliskan.
”Almarhum Nani Binti Mani.”
”Lahir : Jumat Wage. 17 Agustus 1945.”
”Wafat : Minggu Legi. 19 Agustus 1945.”
****

Dua tahun selang, tanpa diduga Brodin menjadi orang paling terkenal di antara semua penduduk yang tinggal di sekitar kuburan. Jika ada orang yang bertanya penjaga makam, pasti jawaban orang itu tidak lain adalah Brodin. Hanya Brodin. Mungkin sudah sepantasnya jika Brodin menyandang gelar itu. Bukan lantaran jasanya selama dua tahun mengabdi di pemakaman itu dengan setia. Tapi Brodin mengenal semua nama-nama mayat di pemakaman itu di luar kepala. Begitu juga dengan denah dan peta lokasinya.

Dan hari ini, entah kenapa Brodin sangat sedih. Brodin merasa salah dan berdosa kepada sebagian mayat yang sekarang ini sedang tidur pulas di sekelilingnya. Ketika baru pertama kali menginjakkan kaki di pemakaman, Brodin selalu berdoa agar ada orang yang mati setiap hari. Dengan begitu, Brodin akan mendapatkan sebungkus nasi. Untuk menyambung hidupnya. Untuk mewujudkan cita-cita mulia agar bisa merubah nasib ekonomi keluarganya.

Tiba-tiba Brodin menangis. Entah sudah berapa kali selama dua tahun ini ia menangis. Mungkin terlalu sering bagi Brodin mengeluarkan air mata. Air mata yang hanya bisa keluar dari orang-orang yang sudah biasa hidup terluka. Oleh orang-orang tegar dan selalu ditindas batinnya.

Brodin duduk termenung di atas batu nisan. Sesekali matanya menerawang tajam mengamati pergerakan matahari dan awan yang bergeser perlahan-lahan memperlihatkan perpindahan waktu dari sore ke malam. Di hari terahir selama menjalani puasa ramadan, pasti hari ini adalah hari yang paling menyiksa hati dan pikiran Brodin. Ketika sebentar lagi gema takbir dikumandangkan, Brodin hanya bisa merayakannya sendiri. Brodin tidak bisa merayakan kemenangan dan berkumpul bersama istri dan anak semata wayangnya, Nani.
Nani.....
Nani.....?
Nani.....!
Nani.....?!

Ya, Nani. Dengan perasaan bimbang, Brodin mengambil uang yang ia simpan di bawah gundukan makam. Di bawah batu nisan bertuliskan
”Almarhum Nani Binti Mani.”
”Lahir : Jumat Wage. 17 Agustus 1945.”
”Wafat : Minggu Legi. 19 Agustus 1945.”

Brodin mencium batu nisan Nani untuk yang terahir kali. Brodin melangkahkan kaki dari pemakaman yang luasnya menghampar tiga hektar itu perlahan-lahan, sama halnya seperti ketika pertama kali Brodin melangkahkan kaki dari rumahnya untuk pergi ke Jakarta, Nani menatap Brodin dengan sorotan mata iba seolah-olah Nani tidak rela melihat kepergian Bapaknya. Tapi Brodin terus memaksa melangkah dengan hati goyah.

Sesampainya di depan pintu, Brodin berdiri dengan perasaan penuh haru. Termangu. Brodin menatap sebuah papan raksasa yang Brodin beli seharga 20 juta dari hasil menabung ketika Brodin menjadi seorang penjaga makam selama dua tahun. Papan raksasa itu bukan bergambarkan peta kota Jakarta yang sudah lapuk di makan usia dan siap menimpanya kapan saja. Tapi papan raksasa itu bertuliskan daftar nama semua mayat yang berada di pemakaman yang luasnya menghampar tiga hektar. Begitu juga lengkap dengan peta dan denah lokasinya.

Brodin tidak lagi berdoa agar ada orang yang mati setiap hari, untuk mendapatkan sebungkus nasi. Tapi Brodin berharap suatu saat, dengan papan raksasa bertuliskan daftar nama semua mayat yang berada di pemakaman yang luasnya menghampar tiga hektar, begitu juga lengkap dengan peta dan denah lokasinya itu, semua orang tidak akan susah-susah untuk mencari dan bersilaturrahmi dengan sanak keluarganya yang sudah mati. Agar semua orang selalu mengingat dan menghargai orang-orang yang sudah mati. Seperti Nani.

Brodin membuang semua kisah ketika pulang ke rumah, seluruh penduduk Madura akan berkoar-koar dan menyambut Brodin bak pendekar. Atau dongeng Brodin berdiri di atas mimbar ketika bercerita tentang pengalamannya berjuang keras menaklukkan Jakarta hingga ahirnya Brodin bisa keluar dan menjadikannya seorang avatar.

Brodin kembali pulang ke Madura tidak membawa apa-apa. Hanya gema takbiran yang terus berkumandang. Gema takbiran yang terus berkumandang mengiringi langkah Brodin di setiap perjalanan menuju pulang. Gema takbiran yang terus berkumandang di hari kemenangan.
Gema takbiran yang terus mengumandangkan.....
Allahu Akbar.....
Allahu Akbar.....
Allahu Akbar.....
La Ilaaha illallahu Allahu Akbar.....
Allahu Akbar Walillahil Hamd.....

Jakarta, Ramadan 1428 H

sumber : http://www.lokerseni.web.id/2012/03/cerpen-islam-doa-seorang-penjaga-makam.html#ixzz1yiKFFOhH

Tangisan Pertama Membawa Cahaya

TANGISAN PERTAMA MEMBAWA CAHAYA
Cerpen Rudi Al-Farisi


Malam yang dingin itu, lutfi masih saja asyik dengan kebiasaan lamanya. Mabuk mabukan, judi dengan ditemani wanita seksi, sudah biasa dalam kehidupannya. Disaat semua orang terlena dengan mimpi mimpi tidurnya, ia malah makin nikmat dengan permainan maksiatnya.

Tiba tiba hp nya berdering tanda sms masuk.
Sebentar kawan…ucap lutfi.
Segera pulang,
istrimu sedang dirumah sakit,
ia akan melahirkan.

Spontan ia terkejut. Lalu bergegas menghidupkan sepeda motornya. Sampai dirumah sakit. Mertuanya langsung menyemprot nya dengan bumbu bumbu ceramah. Ia tak ambil pusing, segera saja ia bertanya kepada dokter tentang keadaan istrinya.

Lutfi memang termasuk bandit. Semua orang mengetahuinya. Tetapi ia tidak bisa menghilangkan rasa cintanya pada sang istri yang begitu sabar menghadapi sifat bejatnya.

Pernah suatu ketika, ia tertangkap oleh polisi dan dipenjara beberapa bulan. Hanya istrinya yang selalu setia menjenguk dan membawakan makanan ke penjara. Guna menjaga gizi sang suami tercinta. Itu terjadi pada saat bulan kedua pernikahannya.

Dok. Gimana kondisi istriku…” Tanya lutfi pada dokter.
Tenang pak.. istri bapak besok akan segera kita operasi. Air ketubannya sudah kering. Sekarang kita bantu dengan infus, kita akan persiapkan semuanya. Tolong pak, diurus administrasinya”. Jelas dokter.

Baik pak.. saya minta tolong pak, berikan yang terbaik untuk istri saya..”.

Melihat suasana itu, mertuanya terlihat luluh, memang lutfi dikenal masyarakat sebagai pemuda yang brandal, mungkin karena umurnya yang masih muda, tetapi didalam relung hatinya, ia sangat mencintai istrinya.
* * * *

Didepan kamar operasi, keluarga dan tetangga dekat telah menunggu apa yang akan terjadi. Tiba tiba pintu ruang operasi terbuka, setelah dua jam mereka menunggu.
Siapa ayahnya,,” suara perawat memecah kerisauan.
Saya mbak..” jawab lutfi spontan.
Selamat pak,,,” anak bapak laki laki.. ucap suster.
ALHAMDULILLAHHHH”. Teriak serentak diruangan itu.
“ Istri saya gimana mbak…
“ Tenang pak,,lagi dalam pemulihan, ia tak apa apa. Masih dalam efek bius. Lebih baik bapak ikut saya keruang incubator, biar sikecil langsung di azankan. Jelas mbak perawat.
Azan”..teriak halus bibirnya.

Seketika mendengar seruan untuk mengazankan anaknya. Sontak kaki lutfi kaku bagai tak ada refleks untuk bergerak. Ia diam membisu, bibirnya gemetar, ia bingung dengan apa yang terjadi. Keluarga yang melihat kejadian itu, tidak begitu kaget, karena lutfi dikenal sebagai sosok yang tak tahu soal agama.

Sholat aja tak pernah apalagi bacaannya”. Celetuk bibir usil salah satu keluarga.
“ Ba…baik mbak..” jawab lutfi terbata.

Di ruang incubator, lutfi mengumandangkan azan ditelinga kanan putranya. Ia memang tak pernah sholat, tapi ia sering mendengar suara azan berkumandang di mesjid dekat rumahnya. Ia masih ingat nada nada seruan sholat itu, walaupun tidak tau artinya tapi ia ingat betul urutannya.
“ ALLAHU AKBAR…ALLAHU AKBAR..”
“ LAAILAHAILLALLAHU..”

Keluarga yang sedang penasaran ingin melihat sang bayi, tepat didepan pintu ruang incubator terkejut, heran, kagum, haru, menyaksikan suasana itu. Bisa juga ya… anak itu azan”. Celetuk bibir ibu mertuanya.

Lutfi yang terdiam kaku melihat wajah bayi mungil itu, tak terasa matanya basah meneteskan air bening hingga membasahi pipinya, kakinya kaku bagai dipasung, badannya oleng tak seimbang hingga akhirnya ia roboh, membentuk posisi sujud kepada Rabb nya. Ia bingung dengan kondisi dirinya.
“ apa yang terjadi…lirih hatinya kebingungan.

Keluarganya diluar lebih kaget melihat lutfi dengan posisi sujud itu. Adik ipar yang hendak masuk untuk menolong abang iparnya itu dilarang pak mansyur tetangga lutfi yang ikut menjeguk.

Biarkan saja, hidayah ALLAH sedang berproses pada dirinya. Jawab pak mansyur, takmir mesjid dekat rumahnya.

Keluarga, tetangga dan para penjeguk dari teman temannya, haru terdiam melihat suasana itu. Malah ibu mertuanya menangis menyaksikan peristiwa itu.

Lutfi masih sujud, air matanya sudah menggenangi lantai ruangan itu. Sudah sepuluh menit ia dibiarkan begitu, tubuhnya yang masih lemas tiba tiba bangkit mendengar tangisan putranya, seakan putranya tahu kondisi ayahnya. Dan menangis memecah suasana. Tangisan itulah yang membawa cahaya bagi hidupnya.

sumber : http://www.lokerseni.web.id/2012/01/cerpen-tangisan-pertama-membawa-cahaya.html#ixzz1yiHfHLay