Selamat Datang di situs resmi Pengurus Daerah Pelajar Islam Indonesia, kabupaten kutai kartanegara selamat menikmati, bersama etam membangun pelajar dengan berbasis imtaq dan iptek di odah kita.

KONFRENSI WILAYAH KALTIM KE 15

pemilihan dan pelantikan pengurus wilayah periode 2011-2013.

Lambang PII, dan badan otonom serta Keluarga Besar

sejak 1947 berkiprah memajukan pendidikan di indonesia

Peringatan Hari jadi PII tahun 2012

Mengundang dai kondang "ustadz Azhari nasution" dai muda pilihan ANTV

Aksi Kemanusiaan

Galang Dana Untuk Korban kebakaran

Dialog pelajar

bekerjasama dengan korps brigade PII kaltim dalam rangka hari pahlawan

Agenda Selanjutnya Leadership Basic Training di Tenggarong, Kutai Kartanegara SMA Negeri 2 Tenggarong. Pada Tanggal 25 - 31 Juli 2012

Minggu, 22 Juli 2012

Manfaat dan Khasiat Buah Kurma

- Kurma tak hanya nikmat dijadikan menu berbuka puasa, selain merupakan sunah nabi berbuka puasa dengan kurma, ternyata kurma mengandung banyak manfaat dan khasiat yang baik bagi kesehatan lho. Seperti saat ini, kita agak jarang menemukan buah kurma dipasaran namun di supermarket buah kurma tetap tersedia meski bukan bulan puasa.

Mungkin di sebagian pasar juga ada yang menjual buah kurma, semoga di dekat rumah anda ada ya pohon kurma eh buah korma deh.

Manfaat dan Khasiat buah Kurma :

[1]. Tamr (kurma kering) berfungsi untuk menguatkan sel-sel usus dan dapat membantu melancarkan saluran kencing karena mengandung serabut-serabut yang bertugas mengontrol laju gerak usus dan menguatkan rahim terutama ketika melahirkan.

Penelitian yang terbaru menyatakan bahwa buah ruthab (kurma basah) mempunyai pengaruh mengontrol laju gerak rahim dan menambah masa systolenya (kontraksi jantung ketika darah dipompa ke pembuluh nadi). Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Maryam binti Imran untuk memakan buah kurma ketika akan melahirkan, dikarenakan buah kurma mengenyangkan juga membuat gerakan kontraksi rahim bertambah teratur, sehingga Maryam dengan mudah melahirkan anaknya.


Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Dan goyangkanlah pangkal pohon kurma itu kearahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu, maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah, ‘Sesungguhnya aku telah bernadzar berpuasa untuk Rabb Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini” [Maryam : 25-26]

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah membawakan perkataan ‘Amr bin Maimun di dalam tafsirnya : “Tidak ada sesuatu yang lebih baik bagi perempuan nifas kecuali kurma kering dan kurma basah”

Dokter Muhammad An-Nasimi dalam kitabnya, Ath-Thibb An-Nabawy wal Ilmil Hadits (II/293-294) mengatakan, “Hikmah dari ayat yang mulia ini secara kedokteran adalah, perempuan hamil yang akan melahirkan itu sangat membutuhkan minuman dan makanan yang kaya akan unsur gula, hal ini karena banyaknya kontraksi otot-otot rahim ketika akan mengeluarkan bayi, terlebih lagi apabila hal itu membutuhkan waktu yang lama. Kandungan gula dan vitamin B1 sangat membantu untuk mengontrol laju gerak rahim dan menambah masa sistolenya (kontraksi jantung ketika darah dippompa ke pembuluh nadi). Dan kedua unsur itu banyak terkandung dalam ruthab (kurma basah). Kandungan gula dalam ruthab sangat mudah untuk dicerna dengan cepat oleh tubuh”

Buah kurma matang sangat kaya dengan unsur Kalsium dan besi. Oleh karena itu, sangat dianjurkan bagi perempuan yang sedang hamil dan yang akan melahirkan, bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada Maryam Al-Adzra (perawan) untuk memakannya ketika sedang nifas (setelah melahirkan). Kadar besi dan Kalsium yang dikandung buah kurma matang sangat mencukupi dan penting sekali dalam proses pembentukan air susu ibu. Kadar zat besi dan Kalsium yang dikandung buah kurma dapat menggantikan tenaga ibu yang terkuras saat melahirkan atau menyusui. Zat besi dan Kalsium merpuakan dua unsur efektif dan penting bagi pertumbuhan bayi. Alasannya , dua unsur ini merupakan unsur yang paling berpengaruh dalam pembentukan darah dan tulang sumsum.

[2]. Ruthab (kurma basah) mencegah terjadi pendarahan bagi perempuan-perempuan ketika melahirkan dan mempercepat proses pengembalian posisi rahim seperti sedia kala sebelum waktu hamil yang berikutnya. Hal ini karena dalam kurma segar terkandung hormon yang menyerupai hormon oxytocine yang dapat membantu proses kalahiran.

Hormon oxytocine adalah hormon yang salah satu fungsinya membantu ketika wanita atau pun hewan betina melahirkan dan menyusui.

[3]. Memudahkan persalinan dan membantu keselamatan sang ibu dan bayinya.

[4]. Buah kurma, baik tamr maupun ruthab dapat menenangkan sel-sel saraf melalui pengaruhnya terhadap kelenjar gondok. Oleh karena itu, para dokter menganjurkan untuk memberikan beberapa buah kurma di pagi hari kepada anak-anak dan orang yang lanjut usia, agar kondisi kejiwaannya lebih baik.

[5]. Buah kurma yang direbus dapat memperlancar saluran kencing.

[6]. Buah kurma Ajwah dapat digunakan sebagai alat ruqyah dan mencegah dari ganguan jin.

[7]. Kurma sangat dianjurkan sebagai hidangan untuk berbuka puasa. Ada hal yang sudah ditetapkan dalam bidang kedokteran bahwa gula dan air merupakan zat yang pertama kali dibutuhkan orang berpuasa setelah melalui masa menahan makan dan minum. Berkurangnya glukosa (zat gula) pada tubuh dapat mengakibatkan penyempitan dada dan gangguan pada tulang-tulang. Dilain pihak, berkurangnya air dapat melemahkan dan mengurangi daya tahan tubuh. Hal ini berbeda dengan orang berpuasa yang langsung mengisi perutnya dengan makanan dan minuman ketika berbuka. Padahal ia membutuhkan tiga jam atau lebih agar pencernaannya dapat menyerap zat gula tersebut. Oleh karena itu, orang yang menyantap makanan dan minuman ketika berbuka puasa tetap dapat merasakan fenomena kelemahan dan gangguan-ganguan jasmani akibat kekurang zat gula dan air.

[8]. Buah kurma dapat mencegah stroke

[9]. Buah kurma kaya dengan zat garam mineral yang menetralisasi asam, seperti Kalsium dan Potasium. Buah kurma adalah makanan terbaik untuk menetralisasi zat asam yang ada pada perut karena meninggalkan sisa yang mampu menetralisasi asam setelah dikunyah dan dicerna yang timbul akibat mengkonsumsi protein seperti ikan dan telur.

[10]. Buah kurma mengandung vitamin A yang baik dimana ia dapat memelihara kelembaban dan kejelian mata, menguatkan penglihatan, pertumbuhan tulang, metabolisme lemak, kekebalan terhadap infeksi, kesehatan kulit serta menenangkan sel-sel saraf.

[11] Kurma adalah buah, makanan, obat, minuman sekaligus gula-gula.


[Disalin dengan sedikit penyesuaian dari buku Kupas Tuntas Khasiat Kurma Berdasarkan Al-Qur’an Al-Karim, As-Sunnah Ash-Shahihah dan Tinjauan Medis Modern, Penulis Zaki Rahmawan, Pengantar Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Media Tarbiyah – Bogor, Cetakan Pertama, Dzul Hijjah 1426H]

<Abu Zubair Zaki Rakhmawan> sumber

Jumat, 20 Juli 2012

Tak Seperti Sore Biasanya


Sore itu seperti sore biasa, Mia pulang terlambat dari sekolahnya. Kegiatan ekstra kulikuler SMA banyak menyita waktunya akhir-akhir ini. Dia membuka pintu dengan lemas dan segera menuju dapur. Berharap segelas air putih, bisa meyejukkan tenggorokannya yang kering. Belum dia menyentuh ketel air yang berwarna biru itu, langkahnya terhenti. Dia melihat ibunya tertidur diatas sofa, di pojok ruang makan itu.tangan ibunya masih memegang celemek yang dia pakai jika memasak.

Wajah ibunya yang dimakan usia tersirat hidupnya yang getir. Setiap hari tanpa henti mengupas bumbu dapur lalu menjualnya kerumah makan. Harga yang didapat tidak pernah sebanding dengan keringat dan luka yang membekas dijarinya. Mata mia berkaca-kaca, dia mendekati ibunya lalu mencium keningnya.

"ibu, aku pulang." sapa mia dengan lembut, lalu dia bermanja, memijat kaki ibunya perlahan.

"ibu ketiduran ya?" beliau tersipu, lalu mengelus rambut anak perempuannya itu.

"pindah kekamar bu, biar aku yang melanjutkan pekerjaan ibu" kata mia.

"jangan, kau buat saja PR-mu. ibu sudah tidak lelah lagi." ibunya lalu berdiri.

"ibu, aku saja." mia merengek.

Ibunya menggelengkan kepala. Jika dia diam artinya dia serius. Mia yang sedikit kecewa. Duduk di meja makan dan mengeluarkan bukunya. Ibunya tersenyum melihat anak perempuannya mulai belajar. Karena bagi dirinya ilmu adalah misteri. Dia tidak bisa membaca dan menulis. Karena itu dia mempunyai hasrat yang kuat, agar anaknya tidak bernasib seperti dirinya. Mia terkejut, teh hangat dan manis kini ada didepannya. Ibunya yang diam-diam membelakanginya ternyata membuatnya teh kesukaannya.

Sore itu masih seperti biasa samapai seorang lelaki mabuk datang dan berteriak-teriak.
"istriku, mana istriku yang ke tiga ini bersembunyi" lelaki itu berjalan oleng dan menjatuhkan beberapa keramik.

"itu ayahmu, mia, kau masuklah kekamarmu. sembunyi" ibunya panik. Mia pun bereaksi refleks. Karena hal ini sudah dilakukannya sejak masih kecil. Mia duduk dipojok kamarnya, memeluk bantal, memejamkan mata tapi telinganya mencuri dengar.

"mana uang itu?, ke***at" ayah mia memaki ibunya.

"ampun pak, uang itu untuk mia sekolah. jangan pak" ibu mia memelas.

"ja****m, anak itu tidak perlu sekolah. kau kawin kan saja dia." lalu terdengar suara tamparan yang keras.

"jangan pak. pukul saja aku sepuasmu, tapi jangan renggut masa depan mia." ibunya memelas lagi.

PRAAKKKKKK, suara pecahan kaca terhempas. Mia semakn mengerut. Lalu terdengar suara orang yang berlari. Tapi suara ibunya tak terdengar sama sekali.

Mia keluar kamar dengan tubuh gemetar, dia perlahan mendekati kamar ibunya. Gemetar tubuh mia terhenti. Dia terhempas kelantai melihat tubuh ibunya. Darah mengalir dikepala ibunya.  Tubuhnya mulai basah karena darah. Tangan ibunya masih menggenggam beberapa helai uang ribuan. Uang yang akan menjanjikan masa depan Mia. Dia tertegun, orang yang paling dicintai dan disayangnya kini terbaring tak bernyawa.

Seperti orang kehilangan jiwa mia berjalan pelan menuju dapur. Diambilnya pisau yang masih tergeletak dilantai. Lalu dia berjalan pelan keluar rumahnya seperti tidak ada apa-apa. Didalam kepalanya saat ini. Hanya ada satu hal.

Mengeluarkan hati ayahnya yang menurutnya tak pernah dipakai.

10 Hikmah Puasa Ramadhan


Ketika bulan ramadhan seperti ini kita selalu berpikir apa hikmah yang kita dapat setelah berjuang puasa seharian. berikut adalah 10 hikmah puasa ramadhan :


1. Bulan Ramadhan bulan melatih diri untuk disiplin waktu. Dalam tiga puluh hari kita dilatih disiplin bagai tentara, waktu bangun kita bangun, waktu makan kita makan, waktu menahan kita sholat, waktu berbuka kita berbuka, waktu sholat tarawih, iktikaf, baca qur'an kita lakukan sesuai waktunya. Bukankah itu disiplin waktu namanya? Ya kita dilatih dengan sangat disiplin, kecuali orang tidak mau ikut latihan ini.
2. Bulan Ramadhan bulan yang menunjukkan pada manusia untuk seimbang dalam hidup. Di bulan Ramadhan kita bersemangat untuk menambah amal-amal ibadah,
dan amal-amal sunat. Artinya kita menahan diri atas satu pekerjaan yang monoton dan lalai beribadah kepadaNya. Orang yang lalai atas mengingat Allah, selalu asyik dengan pekerjaannya, sehingga waktu istirahat siang, sholat, dan makan sering terabaikan. Atau waktu yang seharusnya dipakai untuk beribadah kepada Allah dipakai untuk makan siang bersama kekasih. Sholat? tinggal. Di bulan Ramadhan kita diajarka hidup seimbang, antara pekerjaan, dan Ibadah. Pekerjaan untuk kepentingan dunia dan Ibadah untuk kepentingan Akhirat.
3. Bulan Ramadhan adalah bulan yang mengajarkan Manusia akan pentingnya arti persaudaraan, dan silaturahmi. Di keluarga orang yang tidak mengerti akan arti persaudaraan. Persaudaraan di keluarga tidak begitu akrab, adik beradik bertengkar, Ibu dan Ayah kadang saling tidak memperhatikan. Persaudaraan dari Gang Jalanan, banyak juga perkelahiannya. Persaudaraan atas satu kelompok, satu bangsa, satu tanah air, hanya selogan dan nama, kurang sekali mendapat makna. Dalam Islam ada persaudaraan sesama muslim, akan tampak jelas jika berada dibulan Ramadhan, Orang memberikan tajil perbukaan puasa gratis. Sholat bersama di masjid, memberi ilmu islam dan banyak ilmu Islam di setiap ceramah dan diskusi keagamaan yang dilaksanakan di Masjid. Semuanya didapat gratis tanpa bayaran. Sesama muslim saling bersalaman, bercengkrama saling menanyakan kabar. Sama-sama sholat tarawih tadarus dengan saling mengajarkan Qur'an, dan banyak makanan sedekah di Masjid. Ya tentunya Gratis. Persaudaraan sesama muslim sebenarnya punya pelajaran dan bab khusus, ada ayat qur'an tentang persaudaraan, ada banyak hadits nabi, tetapi jarang diperhatikan orang betapa pentingnya arti persaudaraan itu. Tetapi dibulan Ramadha ia akan tampak dengan sendirinya.
4. Bulan Ramadhan mengajarkan agar peduli pada orang lain yang lemah. Di bulan Ramadhan kita puasa, merasaka lapar dan dahaga, mengingatkan kita betapa sedihnya nasib orang yang tidak berpunya, orang terlantar, anak yatim yang tiada orang tuanya, fakir miskin yang hidup di tempat yang tidak layak. Apakah kita tidak merasa prihatin? Sehingga kita peduli untuk membantu saudara-saudara kita yang kelaparan. Baik karena kondisi ekonomi, atau disebabkan bencana Alam. Allah menyindir orang yang tidak peduli pada nasib orang lain yang miskin sebagai pendusta Agama. Juga Allah mengataka orang yang tidak peduli dengan nasib fakir miskin dan anak yatim sebagai orang yang tidak mempergunakan potensi pancaindranya untuk melihat keadaan sekelilingnya. Orang yang tidak peduli dengan orang lain juga disebut sebagai orang yang salah menilai atau memandang kehidupan.
5. Bulan Ramadhan mengajarkan akan adanya tujuan setiap perbuatan dalam kehidupan. Di bulan puasa kita diharuskan sungguh-sungguh dalam beribadah, menetapkan niat yang juga berisi tujuan kenapa dilakukannya puasa. Tuajuan puasa adalah untuk melatih diri kita agar dapat menghindari dosa-dosa di hari yang lain di luar bulan Ramadhan. Kalau tujuan tercapai maka puasa berhasil. Tapi jika tujuannya gagal maka puasa tidak ada arti apa-apa. Jadi kita terbiasa berorientasi kepada tujuan dalam melakukan segala macam amal ibadah.
6. Bulan Ramadhan mengajarkan pada kita hidup ini harus selalu mempunyai nilai ibadah. Setiap langkah kaki menuju masjid ibadah, menolong orang ibadah, berbuat adil pada manusia ibadah, tersenyum pada saudara ibadah, membuang duri di jalan ibadah, sampai tidurnya orang puasa ibadah, sehingga segala sesuatu dapat dijadikan ibadah. Sehingga kita terbiasa hidup dalam ibadah. Artinya semua dapat bernilai ibadah.
7. Bulan Ramadhan melatih diri kita untuk selalu berhati-hati dalam setiap perbuatan, terutama yang mengandung dosa. Dibulan Ramadhan kita berpuasa. Kita menahan Lapar dan dahaga. Bukan itu saja. Tetapi juga menahan segala yang dapat membatalkan puasa, juga segala yang dapat merusak puasa. Terutama hal-hal yang dapat menimbulkan dosa. Sehingga di dalam bulan Ramadhan kita dapat terbiasa dan terlatih untuk menghindari dosa-dosa kita agar kita senantiasa bersih dari perbuatan yang dapat menimbulkan dosa. Latihan ini menimbulkan kemajuan positif bagi kita jika diluar bulan Ramadhan kita juga dapat menghindari hal-hal yang dapat menimbulkan dosa seperti bergunjing, berkata kotor, berbohong, memandang yang dapat menimbulkan dosa, dan lain sebagainya.
8. Bulan Ramadhan melatih kita untuk selalu tabah dalam berbagai halangan dan rintangan. Dalam Puasa di bulan Ramadhan kita dibiasakan menahan yang tidak baik dilakukan. Misalnya marah-marah, berburuk sangka, dan dianjurkan sifat Sabar atas segala perbuatan orang lain kepada kita. Misalkan ada orang yang menggunjingkan kita, atau mungkin meruncing pada Fitnah, tetapi kita tetap Sabar karena kita dalam keadaan Puasa. Dengan Sabar hasutan Syeitan untuk memperuncing konflik menjadi gagal. Kitalah pemenangnya dari godaan Syeitan tersebut. Masalah orang menggunjing, memfitnah, biarlah itu jadi dosa-dosanya, janganlah kita ikut berdosa dengan dosa orang lain.
9. Bulan Ramadhan mengajarkan pada kita akan arti hidup hemat dan sederhana. Setiap hari kita membeli kue dan minuman untuk berbuka puasa. Dari sekian banya kue dan minuman yang kita beli. Hanya minuman segelas teh buatan kita sendiri yang diminum. Yang lain banyak tertinggal dan sebagian terbuang keesokan harinya. Hal ini menyadarkan kita, bahwa apa yang kita beli banyak-banyak sebelum berbuka, hanyalah hawa nafsu saja. Kebutuhan kita hanyalah segelas teh manis! Mengapa kita harus membeli banyak-banyak minuman dan kue-kue yang akhirnya tidak kita makan? Hal ini menyadarkan kita betapa kita harus hemat, membeli sekedar yang dibutuhkan. Kelebihan uang yang kita punyai mungkin dapat kita sedekahkan bagi yang lebih membutuhkan.
10. Bulan Ramadhan mengajarkan pada kita akan pentingnya rasa syukur kita, atas nikmat-nikmat yang diberikan pada kita. Rasa syukur kita akan adanya nikmat makanan yang telah kita punyai terasa ketika kita puasa. Kita merasakan lapar, tetapi kita masih mempunyai makanan. Bagaimana dengan orang yang merasakan lapar tetapi bukan karena ia juga puasa, tetapi karena memang tidak punya makanan? Kita sakit, kita dapat makan obat ketika buka, tetapi bagaimana dengan orang yang tidak punya obat, ketika ia sakit? Kita enak, ketika kita puasa merasa lapar dan haus, kita lengahkan dengan menonton televisi atau hal-hal lain seperti internet. Bagaimana dengan orang ketika ia lapa dan haus mereka lengahkan lapar dan hausnya dengan bekerja memenuhi tuntutan majikannya? Bukan karena memang tidak punya televisi atau internet, tetapi karena tuntutan hidup, yang mengharuskan ia bekerja untuk makan hari ini dan hari ketika ia tidak bekerja. Tidakkah harusnya kita bersyukur terhadap nikmat yang telah diberikan pada kita?

Rabu, 18 Juli 2012

Dahlan Orasi Kebangsaan di Muknas PII

TIBA DI BANDARA : Metri BUMN Dahlan Iskan, disambut, pimpunan Radar Sulteng Kamil Badrun AR (kanan) di Bandara Mutiara Palu, serta sejumlah anggota PII. Kehadiran Dahlan Iskan di Palu dalam rangka menghadiri Muktamar PII , Kamis (11/7)

PALU- Sosok Dahlan Iskan menjadi pusat perhatian pada Muktamar Nasional (Muknas) ke-28 Pelajar Islam Indonesia (PII) di Gedung Pertunjukan Taman Budaya Sulawesi Tengah, Palu, sore kemarin (11/7). Menteri BUMN RI tersebut, memberikan orasi kebangsaan di hadapan para peserta Muknas yang datang dari berbagai penjuru Indonesia.
Sebagai aktivis PII era 1970-an, Dahlan membuka orasinya dengan bernostalgia terlebih dahulu. Dia menceritakan tentang aktivitasnya di PII dan bagaimana dirinya pasca “uzlah” dari PII,  serta perjalanan hidupnya  hingga kini secara singkat.
Secara umum, Dahlan memberikan motivasi kepada para pengurus PII yang rata-rata adalah pelajar dan mahasiswa. Dia menekankan bahwa yang terpenting bagi pribadi seseorang adalah integritas dan karakter. Dua hal tersebut adalah kunci dari beberapa syarat untuk menjadi sukses dalam kehidupan. Termasuk untuk mencapai tujuan sesuai tema Muknas, yakni Kader Umat, Bermanfaat dan Bermartabat.
Dahlan mengakui walau dia lahir dalam keluarga miskin, namun itu tidak membuatnya lantas menjadi kecil. Dia mengaku  tetap bersemangat dan bertekad untuk mengambil peran dalam kehidupan. Keinginannya itu semakin kuat setelah meninggalkan PII dan menekuni bidang jurnalistik sebagai wartawan, profesi yang diakuinya mengantarkannya pada pencapaiannya saat ini. “Integritas itu suatu prinsip yang dipegang secara independen dan terus menerus,” jelasnya.
Dia menambahkan, integritas sangat berkaitan dengan nilai seseorang. Karakter pun demikian. Orang terlebih dahulu harus bersikap jujur, sebab menurut Dahlan track record seseorang dapat dilacak melalui tingkah lakunya di masa lalu. Jika terdapat cacat, maka akan sulit dipercaya dan diamanahkan sebuah peran yang besar. Hal itu diakui Dahlan terus dijaganya hingga kini dipercayakan oleh presiden menjadi menteri.
Dahlan juga mendorong agar aktivis organisasi agar tidak senang berlama-lama mengurusi lembaga. Yang perlu dilakukan adalah tindakan nyata dan jangan terjebak pada dialog panjang. Dahlan menyarankan agar segera berbuat dan mengambil peran penting di masyarakat. Apalagi jika berbicara tentang solusi atas permasalahan bangsa.
“Banyak yang bilang bisa atau tidak bisa, tetapi yang sebenarnya adalah mau atau tidak. Keberhasilan ada ketika kita mau. Jadi berbuat dulu dan lakukan dengan sungguh-sungguh,” tegas mantan Dirut PLN ini.
Pada kesempatan itu, Dahlan menyempatkan berdialog dengan 10 orang peserta dan undangan sekitar 1 jam lebih. Selama dialog, Dahlan didampingi perwakilan KB PII dan  Ketua PB PII.
Setelah berdialog, Dahlan menyempatkan diri salat Ashar di masjid terapung di depan SPBU Lere dan sidak mendadak ke PT Palindo di Pelabuhan Pantoloan, Palu Utara. Setelah itu mantan Dirut PLN tersebut langsung bertolak ke Jakarta Rabu malam, (11/7).
Soal Keinginan Jadi Capres di 2014
Di Muknas ke-28 PII, Dahlan Iskan, tidak menjawab ya atau tidak saat menjawab pertanyaan jika dirinya berkeinginan menjadi calon presiden (Capres) RI pada 2014 mendatang. Dahlan, sapaan akrabnya, hanya memberikan jawaban diplomatis yang menurutnya  sesuai dengan kondisi yang dihadapinya saat ini. Dahlan mengungkapkan, secara teoritis, saat ini dirinya tidak bisa mencalonkan diri sebagai presiden.
Pasalnya, dirinya berasal dari kalangan independen alias tidak memiliki partai. Sementara menurut aturan, calon presiden dari kalangan independen tidak diperbolehkan mencalonkan diri, kecuali bagi pemilihan calon bupati/walikota atau calon gubernur.
Soal peluang ada tawaran melalui jalur partai, secara teoritis, Dahlan menjelaskan kemungkinan itu tertutup. Karena, partai akan mengajukan ketua umumnya untuk maju sebagai calon presiden. Sehingga menurutnya pintu melalui partai tertutup baginya.
 “Pintu tertutup bisa saja terbuka jika digedor-gedor, dan alhamdulillah saya bukan orang yang suka mengedor-gedor. Jadi secara teoritis, sulit saya kira,” kata Dahlan.
Meski begitu, Dahlan menambahkan dirinya adalah tipe manusia yang sangat percaya dengan takdir. Jika pun di masa mendatang ditakdirkan menjadi presiden, maka dirinya tidak bisa menolak. Karena Dahlan juga percaya bahwa seseorang menjabat sebagai menteri ataupun presiden ditentukan oleh takdir.
 “Saya sangat percaya untuk jabatan yang tinggi-tinggi seperti itu sangat ditentukan oleh takdir. Karena kita lihat sendiri, begitu banyak orang yang sangat ingin jadi presiden meski punya uang banyak tapi tidak bisa juga. Jadi.., apa mau jadi (presiden) ya? Yah terserah yang di atas (Tuhan, red) saja,” ungkap Dahlan diakhiri dengan tawa.

Short URL: http://radarsukabumi.com/?p=18111

Minggu, 08 Juli 2012

Dahlan Iskan Diagendakan Buka Muknas PII di Sulteng

PALU - Untuk pertama kalinya, Muktamar Nasional (Muknas) Pelajar Islam Indonesia (PII) ke-28 akan digelar di Palu, Sulawesi Tengah. Perhelatan pergantian kader pimpinan nasional bakal dibuka oleh menteri BUMN Dahlan Iskan yang juga alumni PII.
Ketua eksekutif comity Muktamar Nasional PII Adi Surya Lasny, tadi malam (4/7) saat bertandang ke redaksi Radar Sulteng, mengatakan kegiatan pra  Muktamar Nasional PII ke 28 tahun 2012, akan dimulakan tanggal 8 Juli dengan beberapa agenda kegiatan, seperti seminar nasional, yang terdiri dari seminar pendidikan, kepemimpinan dan seminar kebangsaan serta ekonomi syariah. Juga akan dihadiri Gubernur Sulteng dan beberapa pembicara seperti menteri pertanian Suswono, serta pembicara nasional lainnya. “Kemudian pada tanggal 10 pada saat pembukaan akan dibuka langsung oleh alumni PII yang sekarang menjabat Menteri BUMN, Dahlan Iskan,” jelasnya.
Senada dengan itu, sekretaris Muktamar Nasional PII, Fachrurazzi B Lagala, menjelaskan kegiatan Muktamar Nasional PII akan dipusatkan di Golni dan pembukaannya di aula Al-Muksinin Jalan Sis Aljufri. Kegiatan yang dimulakan tanggal 8 Juli diagendakan berakhir 15 Juli mendatang. “Persiapan kami untuk di Sulteng sudah sekitar 60 persen. Rencananya untuk pengurus PII di Sulteng akan diikuti beberapa perwakilan pengurus daerah, di antaranya  Banggai Kepulauan, Banggai Luwuk, Tolitoli, Donggala. Diperkirakan dalam kegiatan muktamar PII di Palu akan dihadiri sekitar 1.000 perwakilan wilayah,” terangnya.
Sementara pengurus besar PII, Zuhrutursalen, mengatakan terpilihnya Palu atau Sulteng menjadi tempat pelaksanaan Muktamar Nasional PII ke 28, karena memiliki historis dari beberapa senior PII yang telah memperjuangkan PII menjadi salah satu basic untuk Indonesia Timur. Sekaligus menjadi wilayah PII yang komitmen untuk menjadi kader PII yang dianggap memiliki pandangan berbeda dengan PII terdahulu yang dianggap kader PII yang fanatik. “Ini merupakan kehormatan di Sulteng menjadi tempat pelaksanaan Muktamar Nasional PII,” demikian Zuhrutursalen. (ron)

Jumat, 06 Juli 2012

DIBALIK KERUDUNG

Oleh Ahmad Nur Salim

Cinta itu adalah perasaan yang mesti ada pada tiap-tiap diri manusia, ia laksana setetes embun yang turun dari langit, bersih dan suci. Hanya tanahnyalah yang berlainan menerimanya. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus, maka ia akan tumbuh sebagai pendusta, penipu dan hal lain yang tercela. Tetapi jika ia jatuh ke tanah yang subur, di sana ia akan tumbuh kesucian hati, keikhlasan, setia, dan budi pekerti yang tinggi serta perangai lainnya yang terpuji.

Terkadang cinta itu membuat semua orang jadi bahagia, sengsara, atau bahkan cinta bisa membuat seorang menjadi tak berdaya, tetapi banyak sekali dari diri kita yang salah menentukan arah tujuan dari pada cinta! Setiap orang pasti punya rasa cinta, tapi tak setiap orang dapat merasakan indahnya cinta! Setiap orang pernah bercinta tapi tak setiap orang mampu mengecap bahagianya cinta...

Semua orang pasti memiliki perasaan cinta, karena hal itu merupakan tabi’at dari manusia itu sendiri. Bukankah Allah SWT pernah berfirman dalam Al-Qur’an; ’’Dijadikan indah pula ( pandangan ) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu; wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan disisi Allah-lah tempat kembali yang baik (syurga). (Qs. Ali imron: 14). Kata-kata itu muncul ketika Ustadz Afandi memberikan ceramah di masjid Baitusy syahid.
”Cinta itu memang anugerah, tetapi juga bisa menjadi musibah! (kata Ustadz).Tergantung kita di dalam mengemasnya..! Jikalau cinta itu kita kemas atas dasar ketakwaan kepada Allah, maka cinta itu akan berbuah menjadi anugerah terindah. Tetapi, jika cinta itu kita kemas atas dasar syahwat, maka cinta itu akan menjadi petaka bagi kita! Seperti yang di alami oleh Abdullah.
Ia adalah seorang anak yang rajin, sopan, dan murah senyum. Hik’s!
Selama ini ia menjalani aktivitas sehari-hari di pesantren lita’limil Qur’an. Hari demi hari, jam demi jam, menit demi menit, dan detik demi detik, ia gunakan untuk menitih ilmu. Disana, ia dididik, diasuh, dan digembleng oleh ustad-ustad yang sudah mahir di bidang agamanya. Seiring berjalannya waktu, ketika burung berkicau dengan begitu indah, ayam berkokok dengan begitu kerasnya, ketika langit sudah mulai menampakkan pesona keindahannya...( duuh..jadi terharu nih!) para santri bersiap-siap menuju ke masjid untuk memenuhi panggilan Illahi rabbi.
Allahu akbar...Allahu akbar...
Suara adzan bergemuruh, menggetarkan hati pendengarnya. Dengan suara yang merdu dan indah seorang mu’adzin melantunkan kalimat takbir.
”Took...! Took...! Kang..bangun..bangun! Sudah waktunya sholat shubuh!”, suara pengurus pesantren yang sedang membangunkan para santri yang masih tertidur lelap di tempat tidurnya, hanya untuk memenuhi panggilan Illahi. “Kang…ayo bangun.” Suara Arif mengajakku. “ada apa kang…?” sahutku yang masih memeluk bantal. ”Sudah waktunya sholat shubuh, ayo kang...bangun!” sahut Arif mendesak. ”Iya..” kataku singkat sambil menarik selimut, ”Ayo...!” sahut Arif sambil menarik bantal dan selimutku, ”iya..iya...!” sambungku masih mengantuk.

Semua santri terbangun, kemudian mengambil air wudhu untuk mensucikan diri. Ada juga dari salah satu santri yang sudah duduk didepan mimbar sedang melantunkan ayat-ayat Al-qur’an, sementara santri lain sedang muraja’ah kitab, serta ada yang melakukan sholat rawatib dua raka’at, dan ada juga santri yang masih sulit untuk dibangunkan, akhirnya pengurus memercikkan air di mukanya.
Setelah selesai melaksanakan sholat subuh, semua santri duduk berbaris ke belakang untuk muthola’ah ayat-ayat Al-qur’an yang sudah pernah dihafalnya, dengan Ustadz Rohman AL.LC. Ada yang sudah menghafal 1 jus, 5 jus, atau bahkan sampai 30 jus. Pagi yang cerah!

Di mana matahari mulai menampakkan pancaran sinarnya, terlihat awan yang cerah dan angin yang terhembus menerpa awan. Sekitar pukul 08.00 para santri mempersiapkan diri dan memulai melangkahkan kaki.
”kang...cepatlah, ayo kita berangkat!” Teriak Ardi dengan keras.
”Ustadznya udah hadir belum?” Sahut Ikhsan sambil mencari kitabnya yang telah hilang.” ”sudah kang...Ustadznya sudah menunggu di depan kelas.” balas Ardi dengan tegas. ”Ya akhi..tunggu sebentar”, sahut Ikhsan sambil membawa kitabnya.
Akhirnya merekapun berbondong-bondong (fastabikhul khoirat) menuju ke majlis ta’lim untuk tholabul ’ilmi atau mencari ilmu. Yeap’s! Ketika para santri ingin mengkaji kitab Ihya’ ulumuddin dengan pak Ustadz, sebut saja ustadz Imron! Beliau yang mengajarkan ilmu-ilmu syari’at di sana.
Tuut...! tuut...! (bunyi hujan di atas genting!) hiip’s..! bunyi bel tanda masuk kelas dibunyikan, semua santri putra maupun putri memasuki kelas. Di samping itu ada dua orang santri yang belum memasuki kelas, yaitu aku dan ukhti Ria.
Ku langkahkan kaki menuju tempat yang belum pernah aku memasukinya, ketika sampai didepan pintu, terdengar banyak orang melafadzkan Kalamullah dan kalam rosulullah, hatiku menjadi terenyuh dan tergugah untuk mempelajarinya. Disaat aku telah meresapi dan menghayati ayat-ayatullah, tiba-tiba terlihat sosok wanita bercadar yang memakai kerudung putih berjalan dengan tergesa-gesa menuju majlis ta’lim untuk mempelajari kitab yang di karang oleh imam Ghozali. Sekejap aku melihatnya, terlihat di matanya tampak ada rasa penyesalan yang tiada tara karena terlambat memasuki kelas.
Pada saat itu pula, kami sempat saling bertatap mata satu dengan yang lainya. Kulihat pancaran pesona keindahan di setiap gerak-gerik kelopak matanya..! (deuh..jatuh cinta nih kayaknya!)

Akupun memberanikan diri untuk bertanya, dengan malu-malu kuucapkan sepatah kata, ”Ukhti terlambat ya?”
diapun menjawab dengan begitu anggunnya, ”iya akhi, tadi kitab saya tidak ada di almari.
”Kamu juga kenapa terlambat?”, tanya ukhti.
Dengan santai aku menjawabnya, ”saya anak baru disini, jadi saya tidak begitu paham tentang kegiatan pondok ini”, ”Ohh...begitu ya! sahut ukhti dengan lembut.”
Kemudian, ku ketuklah pintu kelas dengan pelan-pelan.
Took...! took...!
Dag..dig...dug...jantung berdetak begitu kencangnya, ketika ingin memasuki fashlul ’ula (kelas satu), yang pada saat itu sedang belajar Ihya’ ulumuddin.
Akupun mengucapkan salam: “Assalamu’alaikum?”
semua santri menjawab: ”wa’alaikum salam.”
Semua orang menatapku keheranan, ada juga yang berteriak mengejekku.
Huu...! huu...! ada yang janjian nih ya kayaknya..! hmm..
Didalam hatiku tidak ada rasa kesal sedikitpun ketika teman-teman mengejekku, mungkin karna saya belum mengenal mereka sepenuhnya. Hanya ’Arif’lah yang aku kenal pada saat itu, karna sebelumnya dialah yang mengantarkanku untuk bertemu dengan KH. Abu ahmad ruhani AL.LC. ketika awal saya mondok di pesantren. Yah, Beliau adalah selaku Amir Ma’had lita’limil Qur’an.

Tetapi aku merasa tidak enak kepada ukhti yang sama-sama terlambat masuk kelas tadi. Tentu dia sangat malu sekali atas kejadian pada waktu itu. Raut wajahnya terlihat tampak layu, tatapan matanya terlihat membiru, Aku mencoba untuk tenangkan diri, aku merasa sangat bersalah kepada ukhti, dalam hati aku ucapkan; ”maafkan aku ukhti!” (sebelumnya aku belum mengenal siapa namanya). Setelah aku memasuki kelas, Ustadz Imron bertanya kepadaku, ”masmukal karim ya Akhi (siapa namamu)?”

Ismi Abdullah Ustadz! (nama saya Abdullah Ustadz).”
”sebelumnya aku belum pernah melihatmu, kamu santri baru ya disini?” tanya Ustadz bijaksana. ”Na’am (iya) Ustadz!” jawabku lirih. Kemudian Ustadz menyuruhku untuk berta’aruf (berkenalan) dengan teman-teman di depan kelas.
Akupun mulai memperkenalkan diri, ”Assalamu’alaikum wr.wb?” kataku memulai. ”wa’alaikum salam wr.wb” sahut teman-teman.
Pertanyaan demi pertanyan di lontarkan kepadaku. ”Masmukal karim ya akhi?” tanya Hafidz. ”wa ’aina taskunu ya akhi?” sahut Ilham.

Udara sejuk di pagi hari, angin menghembus melewati sela-sela jendela, sementara baling-baling kipas berputar dengan kencangnya, tetapi udara saat itu terasa sangat panas bagiku. Ku menarik nafas pelan-pelan, dan ku mulai menjawab pertanyaan-pertanyaan yang di lontarkan kepadaku, ”Ismi Abdullah akhi, ana min Purwodadi” jawabku dengan tenang. Ketika saya berada didepan kelas, sayapun melihat seorang wanita berkerudung putih merengguk sedih tepat di sudut tembok sebelah kiri, ternyata ia adalah ukhti.
Setelah kejadian itu, hatiku terasa gundah dan piluh, disetiap gerak-gerik langkahku, terpaku dalam kalbu, di setiap jangkauan pandanganku terlintas bayangan kelembutan senyum manis yang menghiasi wajah, terlintas bayangan wajah ukhti. Bahkan, disaat aku membaca kalamullah, disetiap lantunan ayat yang aku baca, terbayang-bayang semua tentangnya, keanggunan prilakunya, tutur katanya, bahkan kerudungnya...! hip’s!
Ya Allah..
Ampunilah hambamu ini..
hamba tidak kuat menahan rasa yang terus menghambur di dalam hati... Sejenak akupun termenung dan berkata, ”Apakah ini yang dinamakan cinta?”, selama ini saya tidak pernah merasakan getaran yang begitu dahsyatnya seperti yang aku rasakan saat ini. Pada saat itu pula, bibirku bergetar dengan sendirinya, seraya berkata:

Ooh..ukhti...
Namamu tak terukhir dalam catatan harianku
Asal-usulmu tak hadir dalam diskusi kehidupanku
Wajah wujudmu tak terlukis dalam sketsa mimpi-mimpiku
Indah suaramu tak terekam dalam pita batinku
Namun, kau hidup mengaliri pori-pori cinta dan semangatku
Sebab, kau adalah hadiah terindah..untukku..!
Langitpun sudah mulai semakin gelap, terlihat para santri sedang menghafal hadits ”Arba’in An-nawawi”, mereka sedang menghafal hadits yang ke-13 yang berbunyi: ”Laa yu’minu ahadukum hattaa yuhibbu liakhiihi maa yuhibbu linafsih” artinya, ’Tidaklah sempurna iman seseorang diantara kamu sekalian, sehingga ia mencintai saudaranya (sesama muslim) sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri’, di sisi lain aku tidak menghafalkan hadits, ku duduk di serambi masjid sedang termenung. Ternyata, aku masih memikirkan Ukhti yang memakai kerudung putih tadi. Hafidz bertanya kepadaku, ”kenapa akhi termenung gelisah seperti itu?”, ”tidak apa-apa akhi” jawabku menghindar. ”Kenapa Akhi, apa yang terjadi? Hari ini kamu terlihat sedih sekali, kenapa?” desak Hafidz sambil memegang bahu kiriku. ”aku sedang memikirkan sesuatu Akhi, hatiku sedih, dan aku merasa bersalah”, sahutku. ”Laa tahzan innallaha ma’anaa (jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita)” sahut Umar menasehati.
Allahu akbar...Allahu akbar...Suara adzan telah di kumandangkan! Semua santri bergegas menuju ke masjid untuk melaksanakan sholat magrib secara berjama’ah. Setelah selesai sholat, para santri mempersiapkan diri untuk mengaji kitab Riyadus shalihin, karangan Imam An-nawawi dengan Ustadz Abu ahmad ruhani AL.LC. Beliau membuka kajian itu dengan ucapan salam, ”Assalamu’alaikum wr.wb.” sahut para santri, ”wa’alaikum salam wr.wb.” Kemudian, beliau memberikan hikmah tentang ”Takwa”, salah satunya yaitu didalam Surat Ath-Thalaq ayat 2, ”Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberi jalan keluar baginya dan Allah akan memberi rezeki dari arah yang tiada di sangka-sangkanya.” Begitu indah beliau menguraikannya, sehingga dapat menyentuh kalbu. Setelah selesai memberikan materi, Ustadz bertanya kepada para santri, ”siapa yang tidak menghafalkan hadits Arba’in An-nawawi hari ini?” semua santri terdiam. ”Coba maju kedepan” lanjut Ustadz. Akhirnya, tiga orang santri maju kedepan, yaitu Asep, Yahya, dan Abdullah. Satu persatu mereka ditanya bagaimana bisa sampai tidak menghafalkan hadits.

Ustadz bertanya kepada Asep, ”bagaimana bisa kamu tidak menghafal Sep?”
”Saya tadi lupa Ustadz”, jawab Asep.
Kemudian, Ustadz meneruskan pertanyaan, ”kenapa bisa lupa Sep, apa yang kamu kerjakan selama hari ini?”
”saya tadi di suruh Ustadzah Nisa’ untuk membeli kitab di Zia, pusat pembelian kitab.” saya tidak sempat menghafal Ustadz! Afwan...sahut Asep sambil menundukkan kepala.

Kemudian Ustadz melontarkan pertanyaan kepada yahya, ”kalau kamu kenapa ya?”...jawab yahya dengan gemetar, ”Aaa..a...a..ku, tadi ketiduran Ustadz!”.
”Kenapa bisa?” tanya Ustadz kembali.
”tadi habis bermain kurotal kodam (sepak bola) Ustadz!”...jawab yahya.
”Sebagian dari (kualitas) yang baik dari keislaman seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya, Paham?” lanjut Ustadz menasehati. ”iya Ustadz, saya paham!” jawab yahya menyesal. Malam begitu terang saat itu, terlihat bulan yang di selimuti banyak bintang, angin menghembus kencang, udara terasa dingin. Menggambarkan suasana hatiku pada waktu itu, tubuhku menjadi dingin seperti angin yang menghembus kencang menerpa dedaunan kering, ketika ustadz memberikan pertanyaannya kepadaku. ”Kenapa kamu tidak menghafal Abdul?” tanya Ustadz lirih. ”Saya tidak tahu Ustadz kalau di suruh menghafalkan hadits!” jawabku pelan. ”ya sudah tidak apa-apa, besok dihafalkan ya?” sahut Ustadz memaklumi.
Pada saat itu pula, aku melihat wajah ukhti yang berada di sebelah kanan tiang masjid. Wajah paras, elok, anggun, nan indah terpadu menjadi satu. Hatiku berbunga-bunga dibuatnya, tubuhku terasa kaku karenanya. Ooh..! Sungguh diriku tak kuat menahan rasa yang terus menggelut di dalam hati.
Malam semakin gelap, semua santri pulang ke pondok untuk beristirahat.

Huuupps...! huuups...! Suara santri yang sedang menyedu teh hangat, terasa manis, dan enak. Sedangkan aku berada di tempat tidur, memeluk bantal sambil menghitung genting yang berada di atas tempat tidur. Kemudian Arif menghampiriku dengan membawa secangkir teh hangat.
”Kenapa Dul?” tanya Arif mengganggu.
”Gak..!” jawabku singkat.
”Ayo..ayo..kenapa? jatuh cinta ya?” sahut Arif menggoda.
”Yee..siapa coba yang jatuh cinta?” jawabku mengelak.
”Ayo..sama siapa? ngaku saja, siapa tahu saya nanti bisa bantu!” sahut Arif.

Akupun sedikit berfikir, akhirnya aku menceritakan semuanya kepada Arif. Terdengar suara keras ke arahku, Ha...ha....ha....! ”Arif tertawa terbahak-bahak, mengejekku!”... wajahku tampak pucat saat itu, ku mencoba untuk tenangkan diri, terbesit di telingaku kata-kata maaf. ”Maaf Dul...maaf...! aku tidak bermaksud untuk mengejekmu, aku hanya heran saja, masak cowok selugu kamu bisa jatuh cinta?” sahut Arif meminta maaf.
”Cinta itu khan anugerah Rif, emangnya gak boleh ya, kalau aku jatuh cinta!” sahutku singkat. ”boleh sih, tapi.....?” kata Arif penuh makna.
”Tapi kenapa?” jawabku penasaran.
”kalau boleh tahu, siapa sih yang membuat hati kamu jadi luluh seperti ini?”...”hmm...!” wajahku memerah tampak malu, hanya kata itulah yang terucap dalam bibirku. ”Ehem..kamu jatuh cinta sama Ukhti Ria ya?” sahut Arif menggoda.

Jadi, namanya Ukhti Ria ya? Sahutku dengan kilat. Upp’s..ketahuan deh!
”Ooh..gitu tho! Bener khan apa yang aku bilang!” hik’s...Arif tersenyum kepadaku.
”Iya deh iya...aku ngaku, aku memang sedang jatuh hati kepada Ukhti..!”...akhirnya kami pun tersenyum dan tertawa bersama.

Malam semakin gelap, semua kamar tertutup dan semua lampu mati, semua santri telah tertidur pulas. Hanya lampu kamarkulah yang masih hidup, karena aku masih bersendau gurau dengan Arif, yang kebetulan dia satu kamar denganku. Wuussst...! Suara angin malam yang menerjang ranting pepohonan. Kulihat suasana malam yang sunyi sepi, akhirnya akupun berbaring di tempat tidur tepat di sebelahnya Arif, dan akupun mulai membaca do’a, ”Bismika Allahumma ahyaa wa bismika amuut”....dan akhirnya akupun tertidur. Dinyalakanya saklar lampu yang lebih terang. Kulirik jam weker yang berada di atas meja belajar. Pukul 03.10. waktunya qiyamul lail. Akupun mulai beranjak dari tempat tidur, ku carilah sandal jepit jelekku yang berada di rak. Masih terbayang sehelai kain yang dililitkan di mahkota terindah. Yeah...wajah Ukhti masih saja hinggap di benak hati dan pikiranku. Segera ku ambil air wudhu, dan ku gelar sajadah kesayanganku. Yeap’s! Sajadah yang selalu menemaniku di kala aku sedang sedih. Dengan hati yang tulus ikhlas, akupun mulai melafadzkan kalimat takbir.
”Ya Rabbi ya Rahman ya Rahim...tak sedikitpun hamba berniat untuk berpaling darimu, hamba hanya tak kuat menahan gejolak yang bersemayam di dalam kalbu.” Ku ungkapkan semua keluh kesah yang ada di benak hati. Malam begitu sunyi, terlihat bulan dan bintang bersinar terang menyinari kegelapan alam.

Ku goreskan pena dengan tinta warna hitam di atas selembar kertas, yang di dalamnya tertuliskan perasaan dan isi hatiku yang paling dalam. ”Sejak pertama kali aku melihatmu, dirimu selalu hadir dalam mimpi-mimpiku, wajah wujudmu selalu ada di setiap langkah kakiku, suaramu terekam dalam pita batinku, kau hidup mengaliri pori-pori cinta dan semangatku, ternyata diriku telah jatuh hati padamu.”... ku kirimkan surat ini lewat Arif. Setelah selesai mengaji Arif memberikan surat ini kepada Ukhti Ria.
”Assalamu’alaikum Ukhti?” kata Arif memanggil.
”Wa’alaikum salam, ada apa Akhi?” Sahut Ukhti Hidayah teman Ukhti Ria.
”Tidak, aku hanya ada perlu sedikit dengan Ukhti Ria. Dia ada tidak?” sahut Arif tergesa-gesa. ”Afwan Akhi, Ukhti Ria sedang mengisi acara di majlis ta’lim KAMAL (kuliah mu’alimil Qur’an), ada perlu apa ya? Nanti akan saya sampaikan kepada Ukhti Ria!” sahut Ukhti Hidayah.
”Iya Ukhti, saya Cuma ingin menyampaikan bincisan kecil ini buat Ukhti Ria, tolong sampaikan ya! Dan jangan dibaca dulu sebelum Ukhti Ria yang membacanya.” Sahut Arif. ”Iya Akhi Insyaallah.” balas Ukhti Hidayah. ”Ya sudah, Syukron katsiron. Jazakillahu ahsanal jaza’...! Sahut Arif sambil melambaikan tangan.

Sudah hampir dua hari aku menunggu jawaban dari Ukhti...Akhirnya, pagi itu...! Pagi yang amat cerah, sementara sang surya utuh menampakkan sinarnya, hembusan kencang awan pagi membuatku belum cukup punya nyali untuk menerima jawaban yang diberikan oleh Ukhti. Ku mencoba untuk tenangkan diri, bibir bergetar melantunkan ayatullah ”Robbissrohli shodri wayassirlii amri wahlul ukdatan min lisaani yafqahuu khouli”, tubuhku tiba-tiba menggigil kedinginan, ketika Ukhti Ria memberikan sesuatu kepadaku. Yeap’s! seuntai kata yang tertuliskan di selembar kertas warna merah muda, kemudian dimasukkanya ke dalam buku kecil nadham jurumiyah. Ternyata itu adalah jawaban yang diberikan oleh Ukhti kepadaku. Malam itu adalah merupakan malam bersejarah bagi kehidupanku, yang mungkin tidak akan pernah aku lupakan di sepanjang denyut nadiku. Setelah menata hati, ku ambil surat yang diberikan oleh Ukhti yang berada diatas meja belajarku. Ku awali membuka surat itu dengan membaca Basmalah ”Bismillahirrahmaanirrahim”, tanganku gemetar ketika ingin membaca surat itu. Kemudian kulepaslah pita yang diikatkan pada amplop surat, kubaca dengan suara lirih, didalamnya berisikan kata-kata penuh makna. Astagfirullah! Tiba-tiba hatiku terkejut ketika membaca isi surat pada paragraf terakhir, pada akhiran surat tertuliskan:

Bukan maksudku menyakiti hati
Diriku hanya tidak ingin membuatmu menjadi rapuh
Ku tak ingin engkau terombang-ambing
Sebagaimana ranting pohon yang di terjang angin
Sebenarnya....diriku sudah ada yang memiliki
Satu minggu sebelum engkau mengirimkan surat kepadaku, aku sudah di khitbah oleh Ilham mishbahul munir, putra dari Ustadz Rohman! Maafkan aku Akhi, semoga engkau mendapatkan pengganti yang lebih baik dari pada aku. Sekali lagi maafkanlah aku.....!

Kurapatkan jaket. Kupeluk kedua lutut menempel di dada, bertopang dagu sambil melamun. Hatiku hancur berkeping-keping seperti ceriping yang digiling-giling setelah selesai membaca surat itu. Diriku berada didalam kesedihan yang berkepanjangan, tubuhku yang kurus tampak semakin terlihat kurus. Wajahku tampak kusut tak bercahaya, bayang-bayang wajahnya masih saja terus menghantuiku....! Uuch...! sungguh terasa perih hatiku, sungguh diriku sudah tidak ada gunanya lagi untuk hidup.
”Sedih ya sedih, tapi jangan menyiksa diri sendiri seperti itu dong!” kata Arif menasehati sambil memegang pundak kananku.
”Habis, kok bisa-bisanya cintaku yang tulus berbalik menusukku seperti ini, apa salahku Rif?” sahutku sedih.
”Kamu tidak salah Abdul, tetapi..cinta kamu yang terlalu berlebihan itu yang membuat kamu menjadi tidak siap untuk menghadapi cobaan ini. Kebahagiaan atas cinta pada manusia itu terbatas masa berlakunya. Beda banget dengan cinta sama Allah. Cinta Allah itu indah, kekal, tanpa pamrih, dan gak kenal kata putus.....! Ayo Abdul semangat...tunjukin sama Allah bahwa kamu itu Ikhwan yang tabah dan kuat dalam menghadapi cobaan. Dan yakinlah, sesungguhnya dengan mengingat Allah hati kita akan menjadi tenang.” kata Arif menghibur.
”Iya Rif, apa yang kamu katakan itu benar, cinta kepada makhluk itu sifatnya hanya sementara. Berbeda halnya cinta kepada Allah. Sesungguhnya, masih banyak lagi sesuatu yang jauh lebih bermanfaat yang harus aku kerjakan, dibandingkan saya terus menerus terpuruk dalam kesedihan.” kataku sambil berdiri.
”Nah, begitu dong...! itu baru sahabatku...!” sahut Arif sambil mengacungkan ibu jari tangannya. Akhirnya kamipun tersenyum bersama, dan ku dekap erat tubuh Arif sambil menggenggam jari tangannya.

Pesan; ” Cintailah orang yang mencintaimu sewajarnya saja, karena bisa jadi orang yang engkau cintai akan berbalik membencimu pada suatu masa, dan Bencilah orang yang membencimu sewajarnya saja, karena bisa jadi orang yang engkau benci akan berbalik mencintaimu pada suatu masa.” 
 
Sumber : http://www.lokerseni.web.id/2012/05/cerpen-cinta-dibalik-kerudung.html#ixzz1znvtFZbX